40 tahun Tidak Mandi

Keuskupan 2 Februari 2009

Ibu Hen hen menuturkan kisah Hin hin. Hin hin adalah adik kandungnya. “Ketika adik kami menikah, Hin hin mewakili keluarga untuk pergi ke Taipak di Pangkalbalam Pangkalpinang Bangka. Adat cina waktu itu salah satunya adalah bertanya tentang hari baik untuk menikah untuk adik bungsu kami. Menurut penuturan Hin hin kepalanya membesar dan tangannya seperti berbulu setelah keluar dari rumah taipak. Mulai dari situ gejala gejala aneh muncul. Dia senang main sabun dan air dengan tangannya. Dia tidak mandi selama 40 tahun. Dia tinggal di dalam kamar ukuran 3 x 5. Sekali waktu dia keluar dari depan kamar, tapi dia tidak keluar dari gerbang rumah. Bila dia anak-anak Melayu melihatnya duduk di depan rumah, mereka sering melempari Hin hin dengan batu. Mereka mengatai bahwa Hin hin Gila. Kalau orang pada umumnya maka dia tidak mampu untuk tidak mandi dan tinggal di dalam kamar sempit.”

Ketika seorang bruder bertamu di dekat rumah kami, saya memohon-mohon kepada beliau agar menengok Hin hin. Untunglah beliau sudi singgah di gubuk kami pastor. Menurut Beliau waktu itu, “Hin hin kena barang (red-diguna-guna). Dia diganggu roh halus.”

Saya percaya bahwa Hin hin dirasuki roh halus. Walaupun dia mengaku sehat dan menuduh bahwa justru saya gila.” Jelas Hen hen.


Saudara saudari menyarankan agar saya tidak lagi memelihara Hin hin. Banyak penduduk kampung melempari dan menghina Hin hin. Namun demikian Hin hin tetap adalah saudari kandungku, pastor. Saya tidak tega membuang kakak kandung. Kalau saya tidak memeliharanya maka siapa yang sudi memelihara dia?”

Ketika anda merawat orang hina dan papa, maka anda merawat dan memelihara Yesus. Boleh jadi kita bisa menemukan Tuhan dalam diri orang menderita dan dianggap kurang waras di mata anak anak kampung.

Iya pastor, walaupun dia jahat dengan saya maka saya mencoba mencintainya. Walaupun anak-anak kampung menghina Hin hin sebagai orang gila dan menganiayanya, saya tetap membelanya sebagai saudari.

Mengagumkan bahwa seorang tidak mandi 40 tahun dan tinggal di sepetak kamar kecil di rumah. Dia adalah bagaikan seorang pertapa. Boleh juga Allah tetap mencintai yang waras dan yang sehat, yang cantik dan yang buruk, yang kaya dan yang miskin, dll.

Melalui dia justru mungkin kita bisa banyak hal belajar darinya.

 

Read 0 comments

  1. Saya dapat merasakan apa yang namanya terikat, seperti yang dialami Hin Hin.Dulu saya berpikir, hal2 buruk hanya suatu kejadian yang kebetulan terjadi. Tetapi saat 11 tahun yang lalu pencarian saya mendapatkan tempat untuk bersandar, saya baru mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Dan lagi2 hebatnya, untuk mendatangkan kebaikan buat saya. DIA penuhi hidup saya dengan peristiwa aneh yang menjadikan saya mempunyai banyak kesaksian yang dapat saya bagikan…..

    Bukanlah suatu kebetulan Hin Hin mengalami hal ini & Ibu Hen Hen harus mengurus adiknya selama 40th. Karena disetiap peristiwa padang gurun ada sesuatu yang Tuhan mau kerjakan. Potensi Yusuf tidak muncul saat ia mengenakan jubah yang maha indah di kemah bapaknya, tetapi potensi itu muncul saat ia berada dalam penjara. Daniel juga sama, potensi Ilahinya tidak tampak waktu di Yerusalem tetapi waktu dibuang ke babel, yang ada pada dirinya begitu menonjol.
    Saya bukan hanya percaya tetapi juga yakin bahwa lewat peristiwa diatas Tuhan sedang mempersiapkan potensi Ilahi yang luar biasa dalam diri ibu Hen Hen….

  2. Saya dapat merasakan apa yang namanya terikat, seperti yang dialami Hin Hin.Dulu saya berpikir, hal2 buruk hanya suatu kejadian yang kebetulan terjadi. Tetapi saat 11 tahun yang lalu pencarian saya mendapatkan tempat untuk bersandar, saya baru mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya tidak pernah lepas dari pandangan mataNya. Dan lagi2 hebatnya, untuk mendatangkan kebaikan buat saya. DIA penuhi hidup saya dengan peristiwa aneh yang menjadikan saya mempunyai banyak kesaksian yang dapat saya bagikan…..

    Bukanlah suatu kebetulan Hin Hin mengalami hal ini & Ibu Hen Hen harus mengurus adiknya selama 40th. Karena disetiap peristiwa padang gurun ada sesuatu yang Tuhan mau kerjakan. Potensi Yusuf tidak muncul saat ia mengenakan jubah yang maha indah di kemah bapaknya, tetapi potensi itu muncul saat ia berada dalam penjara. Daniel juga sama, potensi Ilahinya tidak tampak waktu di Yerusalem tetapi waktu dibuang ke babel, yang ada pada dirinya begitu menonjol.
    Saya bukan hanya percaya tetapi juga yakin bahwa lewat peristiwa diatas Tuhan sedang mempersiapkan potensi Ilahi yang luar biasa dalam diri ibu Hen Hen….

  3. Allah mencintai siapapun, tidak peduli dia jelek, ganteng,cantik,kaya, miskin,sehat,sakit atau apapun, kita adalah sama dihadapan Allah.Maka sudah sewajar dan sepantasnyalah kita saling mencintai sesama. Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Hen Hen adalah tindakan terpuji, yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh banyak orang.Dalam pengorbannnya yang besar, pasti akan ada balasan yang setimpal, yang mungkin tidak dapat diberikan oleh Hin Hin, tetapi Allah akan melakukannya. Semoga Ibu Hen hen akan tetap setia merawat dan memelihara Hin Hin dengan segala kasihnya.

  4. Allah mencintai siapapun, tidak peduli dia jelek, ganteng,cantik,kaya, miskin,sehat,sakit atau apapun, kita adalah sama dihadapan Allah.Maka sudah sewajar dan sepantasnyalah kita saling mencintai sesama. Apa yang telah dilakukan oleh Ibu Hen Hen adalah tindakan terpuji, yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh banyak orang.Dalam pengorbannnya yang besar, pasti akan ada balasan yang setimpal, yang mungkin tidak dapat diberikan oleh Hin Hin, tetapi Allah akan melakukannya. Semoga Ibu Hen hen akan tetap setia merawat dan memelihara Hin Hin dengan segala kasihnya.

  5. Hin Hin berkelakuan aneh setelah pulang dari Taipak, dia pergi ke Taipak untuk kepentingan adik bungsunya. Kalau Hen Hen percaya bahwa Hin Hin dirasuki roh halus , maka di mata Hen Hen, Hin Hin adalah seorang kakak yang rela berkorban bagi adiknya (menanggung resiko untuk kebahagiaan orang lain –sama seperti Yesus yang mati disalib sebagai silih atas dosa manusia, bukan dosaNya). Maka walaupun saudara2 yang lain mau membuang Hin Hin, Hen Hen tetap menyayangi dan memeliharanya. Ini suatu sikap yang patut dicontoh, karena dia dapat bertemu dengan Yesus di dalam diri kakaknya, bagaimanapun konsdisi kakaknya.

    Tuhan tidak memilih dan membedakan , hujan turun, matahari terbit, udara yang dapat kita hirup semua serba gratis yang Tuhan berikan, Tuhan tidak pilih bahwa hujan, matahari dan udara hanya untuk orang atau kelompok tertentu, tapi orang baik, orang jahat, orang kaya, orang miskin semua mendapatkannya. Kasih Tuhan kepada manusia adalah sama, dari kelompok manapun dia berasal. Bisakah kita berbuat seperti Yesus yang tak memandang harta dan jabatan dalam mengasihi??? Cukup pekakah kita terhadap kesulitan orang2 di sekitar kita ??? Maukah kita menjumpai Yesus di dalam diri orang2 yang miskin, hina dan papa serta tertindas dan teraniyaya????? Seringkali kita malah menjauhi (sama seperti saudara2 Hin Hin yang lain) karena orang2 tersebut dianggap beban atau memalukan keluarga padahal sama seperti Hin Hin mungkin orang2 yang kita hindari justru adalah orang2 yang pernah berjasa dalam hidup kita walaupun secara tidak langsung.

    Kalau ini kisah nyata Mo sungguh Ibu Hen Hen punya hati yang mulia, dia hidup bersama Yesus tak ada rasa malu, khawatir, jijik dll. Saya aja kayanya belum sanggup Mo coba bayangkan 40 thn ga mandi wualaaaah…. Ambune????? Setiap hari dan serumah lagi.. Mana tahaaaaan……..

    Harusnya bisa ya Mo kalau udah sampai tahap hidup dalam kesadaran penuh untuk Tuhan, Bukan cuma kalo lagi meditasi aja ya Mo di “disasosiasi”

  6. Hin Hin berkelakuan aneh setelah pulang dari Taipak, dia pergi ke Taipak untuk kepentingan adik bungsunya. Kalau Hen Hen percaya bahwa Hin Hin dirasuki roh halus , maka di mata Hen Hen, Hin Hin adalah seorang kakak yang rela berkorban bagi adiknya (menanggung resiko untuk kebahagiaan orang lain –sama seperti Yesus yang mati disalib sebagai silih atas dosa manusia, bukan dosaNya). Maka walaupun saudara2 yang lain mau membuang Hin Hin, Hen Hen tetap menyayangi dan memeliharanya. Ini suatu sikap yang patut dicontoh, karena dia dapat bertemu dengan Yesus di dalam diri kakaknya, bagaimanapun konsdisi kakaknya.

    Tuhan tidak memilih dan membedakan , hujan turun, matahari terbit, udara yang dapat kita hirup semua serba gratis yang Tuhan berikan, Tuhan tidak pilih bahwa hujan, matahari dan udara hanya untuk orang atau kelompok tertentu, tapi orang baik, orang jahat, orang kaya, orang miskin semua mendapatkannya. Kasih Tuhan kepada manusia adalah sama, dari kelompok manapun dia berasal. Bisakah kita berbuat seperti Yesus yang tak memandang harta dan jabatan dalam mengasihi??? Cukup pekakah kita terhadap kesulitan orang2 di sekitar kita ??? Maukah kita menjumpai Yesus di dalam diri orang2 yang miskin, hina dan papa serta tertindas dan teraniyaya????? Seringkali kita malah menjauhi (sama seperti saudara2 Hin Hin yang lain) karena orang2 tersebut dianggap beban atau memalukan keluarga padahal sama seperti Hin Hin mungkin orang2 yang kita hindari justru adalah orang2 yang pernah berjasa dalam hidup kita walaupun secara tidak langsung.

    Kalau ini kisah nyata Mo sungguh Ibu Hen Hen punya hati yang mulia, dia hidup bersama Yesus tak ada rasa malu, khawatir, jijik dll. Saya aja kayanya belum sanggup Mo coba bayangkan 40 thn ga mandi wualaaaah…. Ambune????? Setiap hari dan serumah lagi.. Mana tahaaaaan……..

    Harusnya bisa ya Mo kalau udah sampai tahap hidup dalam kesadaran penuh untuk Tuhan, Bukan cuma kalo lagi meditasi aja ya Mo di “disasosiasi”

  7. Tulisan Pater akhir-akhir ini mengusik hati saya untuk kembali bertanya pada diri sendiri sudahkah aku mencintai dengan tulus hati dan rela berkorban tanpa mengharapkan apapun juga ?

    Allah sudah dengan tulus hati merelakan anaknya menderita,
    Yesus sampai dengan tetes darah terakhir, berkorban dari mulai dihakimi,disangkal,dikhianati,dihina,dicaci,diludahi, ditelanjangi, dirajam, dan disalib… sampai mati pula.
    siapa yang lakukan itu ??? saya !!…

    Berapa banyak penderitaan Yesus yang pernah saya alami?
    satu penderitaan, dua, atau tiga rasanya terlalu banyak, dengan satu penderitaan saja, saya sudah menangis berteriak-teriak marah seakan-akan Allah tidak adil buat saya.

    Ingin rasanya, meniarap mendekap kaki berlubang paku, itupun jika masih dianggap layak, memohon ampun dan sesal,
    airmata tak cukup berarti jika diri ini tidak dapat berubah hari demi hari dan hanya mengarah padaMu ya Allahku.

    Tangan berlubang oleh dosaku jugalah yang terulur erat mendekap jiwa yang luluh lantak, membelai kasih memberi damai pengampunan dosa ……

  8. Tulisan Pater akhir-akhir ini mengusik hati saya untuk kembali bertanya pada diri sendiri sudahkah aku mencintai dengan tulus hati dan rela berkorban tanpa mengharapkan apapun juga ?

    Allah sudah dengan tulus hati merelakan anaknya menderita,
    Yesus sampai dengan tetes darah terakhir, berkorban dari mulai dihakimi,disangkal,dikhianati,dihina,dicaci,diludahi, ditelanjangi, dirajam, dan disalib… sampai mati pula.
    siapa yang lakukan itu ??? saya !!…

    Berapa banyak penderitaan Yesus yang pernah saya alami?
    satu penderitaan, dua, atau tiga rasanya terlalu banyak, dengan satu penderitaan saja, saya sudah menangis berteriak-teriak marah seakan-akan Allah tidak adil buat saya.

    Ingin rasanya, meniarap mendekap kaki berlubang paku, itupun jika masih dianggap layak, memohon ampun dan sesal,
    airmata tak cukup berarti jika diri ini tidak dapat berubah hari demi hari dan hanya mengarah padaMu ya Allahku.

    Tangan berlubang oleh dosaku jugalah yang terulur erat mendekap jiwa yang luluh lantak, membelai kasih memberi damai pengampunan dosa ……

  9. Waktu aku di SMA sering kali bersama teman2 aku pergi ke paranormal untuk iseng2 tanya nasib tapi kalau paranormalnya mensyaratkan kami harus bawa bunga untuk mandi dll biasanya kami ga mau datang lagi, tapi kalau ramalan paranormal itu tepat biasa kami datang lagi. AKu sebetulnya ikut2an aja dan ga percaya sama segala ramalan itu karena ibuku pernah bercerita, ketika beliau baru melahirhan adikku laki-laki, di rumah temannya waktu itu ada seorang para normal sedang meramal teman2nya. Ibu mau membuktikan kepada teman2nya bahwa peramal itu bohong, maka ibu bilang bahwa beliau sedang hamil sedangkan anak terakhirnya (laki2 satu2nya dari 6 anaknya) baru berusia 3 bulan, terus peramal itu bilang jangan digugurkan ya ini anak bawa hokie, laki2 lagi. Ketika peramal itu pulang ibuku cerita bahwa tadi dia bohong karena pada saat itu ibu sedang menstruasi. Cerita ini mempegaruhi pikiranku tentang paranormal. Sampai suatu saat pada saat aku belajar kelompok di rumah temanku, ada tamu orangtuanya datang. Ga ada ujung pangkal tiba-tiba dia duduk depan aku dan mengambil tanganku, terus dia bilang dalam waktu dekat kamu akan pergi jauh jalan-jalan, dirumahmu ada sumur itu jelek, dibagian belakang rumah bocor, makanya hidup keluargamu susah. AKu ya ga ngomong apa2 karena kupikir semua itu bohong mau jalan-jalan kemana ? uang aja ga punya, bisa sekolah aja udah untung. Eh ga taunya pada saat study tour ke Bali aku bisa ikut, padahal pada masa itu kalo study tour boleh ikut boleh ga dan aku sudah dicoret dari daftar siswa yg boleh ikut tour itu. Nah karena kejadian ini aku jadi cerita pada ibuku soal ramalan itu karena memang di belakang rumahku ada bekas sumur dan rumah bocor, seperti biasa ibu ga percaya, malah ibu bilang orang2 yang tinggal di rumah ini sebelum kita selalu sial hidupnya tapi koq kita ga ngerasa seperti itu, malah kita ada kemajuan sekarang ini (waktu itu ibuku belum Katolik). Iman inilah yang aku dapat dari ibuku, waktu terus berlalu dan aku masih suka ikut2an dengan teman pergi ke paranormal, Cuma belakangan cara pandangku yang lain. Kalau paranormal bilang yang bagus2 aku amin-kan terus kalau dia cerita yang jelek aku berusaha untuk membuktikan kepada teman2ku bahwa itu tergantung kita, jangan sampai kita terpengaruh dan menjadi termakan oleh ramalannya, aku patahkan dan berusaha untuk mencapai sebaliknya dari yang buruk itu. Tanpa terasa dari hal-hal itu justru menimbulkan cara berpikir positif dalam diriku dalam memandang yang negative. Dalam setiap peristiwa aku selalu mengali yang positifnya untuk memotivasi aku. Dan sekarang aku ga pernah pergi ke paranormal.

    Mudah-mudahan sharingku dapat bermanfaat bagi pembaca.

  10. Waktu aku di SMA sering kali bersama teman2 aku pergi ke paranormal untuk iseng2 tanya nasib tapi kalau paranormalnya mensyaratkan kami harus bawa bunga untuk mandi dll biasanya kami ga mau datang lagi, tapi kalau ramalan paranormal itu tepat biasa kami datang lagi. AKu sebetulnya ikut2an aja dan ga percaya sama segala ramalan itu karena ibuku pernah bercerita, ketika beliau baru melahirhan adikku laki-laki, di rumah temannya waktu itu ada seorang para normal sedang meramal teman2nya. Ibu mau membuktikan kepada teman2nya bahwa peramal itu bohong, maka ibu bilang bahwa beliau sedang hamil sedangkan anak terakhirnya (laki2 satu2nya dari 6 anaknya) baru berusia 3 bulan, terus peramal itu bilang jangan digugurkan ya ini anak bawa hokie, laki2 lagi. Ketika peramal itu pulang ibuku cerita bahwa tadi dia bohong karena pada saat itu ibu sedang menstruasi. Cerita ini mempegaruhi pikiranku tentang paranormal. Sampai suatu saat pada saat aku belajar kelompok di rumah temanku, ada tamu orangtuanya datang. Ga ada ujung pangkal tiba-tiba dia duduk depan aku dan mengambil tanganku, terus dia bilang dalam waktu dekat kamu akan pergi jauh jalan-jalan, dirumahmu ada sumur itu jelek, dibagian belakang rumah bocor, makanya hidup keluargamu susah. AKu ya ga ngomong apa2 karena kupikir semua itu bohong mau jalan-jalan kemana ? uang aja ga punya, bisa sekolah aja udah untung. Eh ga taunya pada saat study tour ke Bali aku bisa ikut, padahal pada masa itu kalo study tour boleh ikut boleh ga dan aku sudah dicoret dari daftar siswa yg boleh ikut tour itu. Nah karena kejadian ini aku jadi cerita pada ibuku soal ramalan itu karena memang di belakang rumahku ada bekas sumur dan rumah bocor, seperti biasa ibu ga percaya, malah ibu bilang orang2 yang tinggal di rumah ini sebelum kita selalu sial hidupnya tapi koq kita ga ngerasa seperti itu, malah kita ada kemajuan sekarang ini (waktu itu ibuku belum Katolik). Iman inilah yang aku dapat dari ibuku, waktu terus berlalu dan aku masih suka ikut2an dengan teman pergi ke paranormal, Cuma belakangan cara pandangku yang lain. Kalau paranormal bilang yang bagus2 aku amin-kan terus kalau dia cerita yang jelek aku berusaha untuk membuktikan kepada teman2ku bahwa itu tergantung kita, jangan sampai kita terpengaruh dan menjadi termakan oleh ramalannya, aku patahkan dan berusaha untuk mencapai sebaliknya dari yang buruk itu. Tanpa terasa dari hal-hal itu justru menimbulkan cara berpikir positif dalam diriku dalam memandang yang negative. Dalam setiap peristiwa aku selalu mengali yang positifnya untuk memotivasi aku. Dan sekarang aku ga pernah pergi ke paranormal.

    Mudah-mudahan sharingku dapat bermanfaat bagi pembaca.

Tinggalkan Balasan ke Angela_Shellica Batalkan balasan