Sumarah kepada Allah

Wisma keuskupan, 13 Oktober 2008

 

Apa yang mampu membuat bayi menangis berjam-jam dengan semangat? Apa yang membuat  anak berumur 4 tahun mampu bergerak berjam-jam dengan semangat? Apa yang membuat wanita bisa lebih bertahan daripada pria ketika dia ditinggalkan pasangannya?

 

Menurut fenitha, tiap maklhuk senang berada di zone comfort (emosional dan physical). Bayi menangis karena comfort zone terganggu (sakit, lapar, digigit nyamuk)? Anak 4 tahun gerak berjam-jam karena explre hal-hal baru sehingga adrenaline tubuh berikan rasa senang (confort zone)? Wanita tahan ditinggal suami, mungkin karenasuami tidak memposisikan diri sebagai comfort zone? Atau wanita sudah jenuh/rutin dengan suami sehingga anggap pria non suami sebagai comfort zone, walaupun maya. Obsesinya sebabkan dia tidak sanggup bedakan realita dengan maya?

 

Apa membuat bayi mampu bertahan menangis berjam-jam dengan semangat? Menurut Saraswati, bayi sewaktu masih dalam kandungan kan mendengarkan terus musik surgawi. Begitu lahir maka dia seperti kehilangan kontak. Dia masih mencari suara yang membuat hati dia tenang. Karena tidak menemukan maka nangislah dia. Bayi kan masih tidak punya dosa dan begitu dia dekat dengan ibunya pasti tangis itu akan reda. Tali ikatan bathinnya didunia dengan sang ibu yg memberikan kedamaian. Sedangkan anak umur 4 th mampu bergerak berjam-jam, akal budi mulai digerakkan, tapi masih tidak tahu mana benar dan salah, pikiran dia hanya menyerap apa yg dia lihat, mulai bisa interaktif, apa saja dia masukkan dan pikiran dan dituangkan dalam bentuk gerak. Dan seorang wanita bertahan ditinggal suami daripada lelaki. Iki sing angel! Mungkin generasi di atas kita masih berlaku kalimat itu. Kalau sekarang kayaknya sudah tidak, pikiran sudah makin maju, masing-masing individu punya prinsip sendiri-sendiri. Faktanya sih memang kebanyakan wanita bertahan daripada lelaki. Mungkin kodrat nya, punya sifat lembut dan cinta kasih yang porsinya lebih besar dari lelaki. Anak laki begitu masuk masa akil balig mulailah timbul sifat arogan nya dan ini terus berkembang. Wanita memiliki cinta yg tidak terlihat tetapi sangat agung. Hanya dia yang bisa merasakan dan ini lah yang membuat wanita lebih bisa bertahan daripada laki-laki.

 

Bapak Haryono berpendapat, mereka tanpa beban dan pasrah.

 

Bapak Hartono berpendapat, untuk bayi menangis khan olah raga. Untuk anak umur 4 tahun, saat indah untuk main sambil belajar (play group school). Untuk wanita dapat bertahan ditinggal suami, relative. Tergantung sikon ekonomi. Relative kodratnya home mgr.

 

Mencermati pendapat di atas tercatat pokok penting yang membuat bayi, ank, dan seorang wanita mempunyai kekuatan yakni pasrah, tidak mempunyai beban, suci, zone comfort, dan menggunakan akal budi? Apakah anda mempunyai pemikiran lain?

Keilahian dalam Kelemahan

Pulang Ekaristi jam 0920 wib di stasi Yohanes Pemandi Batu Rusa Bangka, aku singgah di gubuk tua Cuncio. Delapan cucunya berhambur menyalami. 1 dari 2 lelaki yang duduk di depan lari ke belakang memanggil mama dan papanya. Sedang 1 lelaki tetap duduk bengong memandang jalan utama Sungailiat – Pangkalpinang.

 

“Susah pastor, dia sudah berumur 33 tahun. Dia belum bisa mandiri. Kalau dia tidak diajak makan, maka dia berdiam diri di tempat itu terus. Tidak ada rasa capek. Tidak ada rasa lapar. Tidak ada rasa susah. Tetapi dia menyusahkan saya. Sekarang saya harus mengarahkan dia terus untuk bekerja, tetapi kalau dia tidak diarahkan, maka dia berdiam terus. Tetapi dia pasti mau bekerja apapun kalau kita menyuruhnya.”

 

Saya memanggil Lean untuk duduk di sampingku. Dia tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Ketika Cuncio memanggil dengan nada meninggi, dia beranjak dari tempatnya menuju ke tempatku. “Ini Yesus! Yesus datang ke rumah kita. Mintalah berkat padaNya, agar kau sehat!”

 

Aku terperanjat mendengar kepolosan Cuncio. Dia mengimani bahwa kehadiran seorang imam adalah pengejawantahan Tuhan. Jelaslah bahwa seluruh anak, cucu, dan isterinya meninggalkan segalanya untuk menyambut tamu agung, yang dipandangnya sebagai Yesus.

 

Namamu siapa?

 

Lean

 

“Aku punya tangan, kau punya tangan khan?”

 

Iya

 

Aku punya kaki, kau punya kaki khan?

 

Iya

 

Aku punya kepala, kau punya kepala khan?

 

Iya

 

Aku punya tubuh, kau punya tubuh khan?

 

Iya

 

Aku punya kaki, kau punya kaki khan?

 

Iya

 

Kita adalah sama. Tidak ada perbedaan di antara kau dengan pastor! pastor bisa bekerja, kau juga bisa bekerja. Pastor bisa memijak, kau bisa memijat. Pastor bisa memperbaiki motor, kau juga bisa. Pastor bisa bercocok tanam, kau pun bisa. Tuhan menciptakan kita sama. Kau harus bekerja menggunakan otak dan tubuhmu!

 

Cuncio bengong mendengar percakapan kami. Dia tidak menyangka bahwa anaknya mempunyai kesamaan dengan pastor yang dihormatinya. Kalau Cuncio menghormati pastor, maka dia juga menghormati Lean dan semua orang.

 

Kedua tangan saya mulai memijat seluk-seluk bagian penting tubuh. Tubuh Lean menggelinjang. Saya mengkursus memijat untuk Lean. Pengalaman dipijit mengajar dia memijit. Setelah saya selesai memijit, saya meminta Lean untuk memijit tubuh. “Luarbiasa pandai dia memijat! Keterampilan memijat bisa dipakai untuk mencari uang.”

 

Cuncio bengong melihat perilaku kami berdua. “Allah menolong kami. Terimakasih pastor!”

 

Untung dia tidak memanggil saya Yesus ketika saya berpamitan pulang. Di atas motor Cripton tahun 1993 BN 7654 HD,”Kita merasa tidak layak di hadapan Tuhan untuk menjadi pelayanNya, karena dosa dan kelemahan kita. Di dalam segala cacat dan cela orang sederhana masih memandang keilahian. Masih layakkah kita melangkah saat ini di tengah hiruk pikuk dunia yang menawarkan banyak kenikmatan sesaat?”

 

(21 September 2002, detik-detik menjelang ULANG TAHUN TAHBISAN IMAMATKU KE-6)

Kolaborasi

Wisma keuskupan, 13 September 2008

 

Ketika aku mempunyai seorang nenek yang tidak menyayangi putri kandungnya. Tuhan mengajarkan pada ku akan arti menyayangi.  Seorang nenek yang memiliki 6 orang anak, 4 orang putri dan 2 orang putra.Setiap kali aku mencoba masuk kedalam hatinya aku melihat hati yang kosong, hati yang tak memiliki kasih sayang dan keegoan yang bertahta dalam dirinya. Tanpa sadar nenek banyak melukai hati anak2nya khususnya ibuku.

 

Aduh … aduh .. Kok begitu ya. Apa dampaknya untukmu

 

Sebenarnya bukan seperti itu nenek, seharusnya ia menjadi tumpuan kasih sayang bagi anak-anaknya. Tapi kekosongan dan keegoan orang tuanya membuat ia tumbuh menjadi pribadi yang labil, penuh amarah dan tak mampu tergetarkan oleh kasih sayang dari orang2 yang ada di sekelilingnya. mungkin tak ada yang salah. Hanya keadaan yang tak tepat.

 

Sikapmu sudah tepat

 

Dampaknya bagiku??? Suatu hari aku ingin menyayangi anak2ku, menjadi tempat mencurahkan perasaan mereka, menjadi sahabat bagi mereka, aku ingin mengisi mereka dengan kehidupan penuh kasih sayang. Mengajarkan arti menyayangi dan bagaimana rendah hati dalam menyikapi berbagai permasalahan yang menjerat hidup. Agar kebencian dipudarkan dengan kasih sayang, agar kesombongan dipudarkan dengan kerendahan hati, agar kekerasan dipudarkan dengan kelemahlembutan. Amin

 

Niat luhurmu pasti menyembuhkan dirmu dan banyak orang di sekitarmu.

 

Satu lagi, aku ingin menjadi orang tua yang mampu mendidik, mengarahkan mana yang benar dan salah serta mengajarkan untuk berani bertanggung jawab terhadap setiap kesalahan yang mereka lakukan.

 

Luarbiasa kau. Kau orang tua yang bijak. Bisa belajar dari pengalaman hidupmu.

 

Bertanggung jawab agar mereka tidak menjadi anak2 yang lari dari masalah, mampu mengambil keputusan luhur bukan mempersalahkan orang lain atas segala sesuatu yang menimpa mereka. Jika aku menyayangi seharusnya aku membantu mereka untuk berubah.

 

Kasih sayang tulus orang tua memang mengubah

 

Begitulah kehidupan ku yang dikelilingi pola ajar orang tua yang salah dalam mendidik dan menyayangi anak2 mereka. Aku belajar banyak dari ibu ku. Ia seorang anak yang luar biasa bagi ibunya, seorang yang luar biasa bagi anaknya. Sekalipun ia dikecewakan orang tuanya ia tetap memaafkan sikap mereka, ia tetap mampu menyimpan rasa sayang dalam hatinya. Ia mampu mengisi kasih sayang dalam jiwaku sekalipun ia tidak mendapatkannya. Tidak mendapatkan dari orang tuanya.

 

Kau sudah bisa memaknai sejarah hidupmu secara positif. Berapakah keinginanmu untuk mempunyai anak?

 

Ia karena sejarah tak mampu diubah hanya mampu untuk menjadi pembelajaran. Hal yang terjadi dan berlalu tidak akan kembali terulang, tidak dapat kembali hanya menjadi pengalaman berharga dalam melangkah, mungkin menjadi cermin.

 

Aku menginginkan anak sepasang seperti ibuku, hanya dibalik. Yang perempuan menjadi kakak dan yang lelaki menjadi adik. 2 agar bisa dibagi 50 dan 50. Kalau 3 mungkin akan ada bagian yang tidak merata, kalau 4 anak akan semakin sedikit perhatian dan kasih sayang yang didapat. Ketika mereka bertengkar tidak akan ada yang saling memihak karena hanya berjumlah dua. Mereka akan saling berpegangan erat bersama-sama dalam menyikapi bagaimana menjadi dewasa.

 

Pemikiranmu luarbiasa …

 

Yang perempuan manjadi anak pertama agar dengan naluri keibuan ia dapat membimbing adik, dengan kelemahlembutan ia bersikap sabar, kolaborasi yang indah untuk berusaha menggapai kebijaksanaan

 

Iya  .. memadukan kelembutan dengan kekuatan. Tepat sekali. Semoga impianmu semua dapat terwujud

 

Namaku Catherine Fransisca Xaveria Koesnadi. Namaku panjang bukan? Nama itu katanya diberikan ayahku.  Aku seorang mahasiswi yang sudah menyelesaikan kuliah namun masih harus menempuh penulisan skripsi dan bekerja di sebuah sekolah swasta. Aku bekerja dalam kehidupan ini sebagai pejuang mencapai tujuan dan makna hidup yang sesungguhnya. Senang boleh mengenal Pastor, kebahagiaan bagiku. Pastor Titus, namanya langka terdengar singkat namun akrab di telingaku, seolah telah lama mengenal pastor

 

Tulisamu mendalam sekali bagiku. Ini mencerahkan banyak orang. Bagaimana sikap seorang anak ketika dibesarkan dalam situasi yang memedihkan hati. Apa yang membuatmu menempuh sikap seperti itu?

 

Aku ingin punya waktu untuk menikmati waktu bersama Tuhan. Aku tidak ingin digoyahkan oleh berbagai penglihatan dan perkataan yang membuat ku ragu akan keagungan kasih Tuhan yang sanggup menuntun dan menggendongku. Aku tidak ingin menjadi kehilangan harapan hanya karena perkataan dan penglihatan manusia. Semua ingin kulakukan, kurasakan, kulewati bersama Tuhan saja. Dan aku berhasil melakukannya. Ada damai sejahtera yang kudapatkan.

 

Permenungan yang panjang, kulalui proses permenungan dalam kehidupanku. Sekalipun benar bahwa aku harus melewati jalan yang gelap, hitam kelam, tak ada jala keluar, Aku tidak ingin itu kudengar terlebih dahulu. Aku ingin lebih siap lagi bersama Tuhan. Biar Tuhan saja yang melakukannya, biar itu tetap menjadi rahasia Tuhan, karena aku yakin bahwa Tuhan jauh lebih tahu yang harus dilakukan.

 

Aku berusaha untuk tidak takut melangkah dalam lembah kekelaman, karena aku percaya ada cahaya terang yang membimbingku. Takut, resah, bimbang semua akan kulewati dengan keyakinan bahwa bila Tuhan telah memampukan aku hingga saat ini,maka akupun akan disanggupkan untuk melewati gelombang lainnya. Bukan aku hebat ataupun kuat tetapi karena Tuhan ingin aku lewati semua ini.

 

Peganglah keyakinanmu itu. Kamu akan sangat kuat melangkah.

 

Iya Pastor dan memang untuk saat ini aku memilih untuk diam, tak banyak bergerak. Aku hanya diam, mengamati, melihat dan menjalani tanpa mau banyak berpikir. Karena ku takut salah, takut sakit bila bergerak dengan keinginan sendiri. Sekalipun sikapku membuat orang bingung, sekalipun orang marah dengan sikapku dan sekalipun sikapku menuai kesalah pahaman.

 

Tepat sekali.  Semua ini ilusi dek. Ilusi. Semua

 

Bagiku tak mengapa karena memang untuk saat ini aku diminta Tuhan untuk diam. Tidak berkata, tidak bertindak, tidak berpikir. Aku hanya diminta untuk diam. Diam bukan untuk larut dalam sunyi sepi tetapi untuk menemukan yang sesungguhnya, yang tidak terselami, yang tidak terlihat mata hanya bisa dirasakan. Terimakasih Pastor, aku merasa memiliki sahabat yaitu Pastor. Sahabat yang mengerti, melihat dan merasakan apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan ini yang sebenarnya adalah ilusi. Semua adalah ilusi, ilusi adalah kosong dan kosong adalah hampa tak ada isinya.

 

Yang kekal adalah sabda = hati. Kosong. Hampa. Kenyataan di luar dirimu berubah setiap detik. Orang menangkap perubahan itu sebagai ketetapan. Dia memegang ketetapan yg di tangkap oleh panca indera itu. Hasil tangkapan itu melahirkan pengertian = paham maka paham setiap orang = pengertian tiap orang berbeda lahirlah konflik beda paham/pengertian. Padahal panca indera sangat terbatas dalam menangkap kenyataan tetapi orang merasa paling benar, paling paham, paling mengerti, he he … Padahal pengertian dia itu ilusi sudah berubah dan hanya secuil yg diketahuinya. SOMBONG!

 

Ini memang jawaban dari apa yang telah menimpaku. Aku dianggap tidak pengertian, tidak mengetahui, tidak peduli, egois, tinggi hati sedangkan aku merasa tidak demikian dan karena perkataan dan sikap orang aku jadi goyah dan tak mengerti tentang diriku. Padahal yang tahu diriku secara pasti hanya Tuhan dan hatiku bukan di luar diriku atau sekelilingku. Benar Pastor, benar apa yang pastor bilang bahwa perasaan berubah karena perasaan ditangkap indera kita.

 

Bagus

 

Aku sudah terluka pastor ketika diam seperti ini sementara aku ingin melakukan sesuatu. Mencurahkan perasaan ku, bertindak tetapi aku tak bisa karena aku harus diam…. Aku tak ingin berubah lagi pastor, tak ingin. Aku harus mengesampingkan ego, hasrat, perasaan dan keinginan cinta diri.

 

Bagus

 

Iya gitu deh Pastor, memang indra sangat terbatas dalam menangkap kenyataan dan kedalaman yang ada. Sedangkan sebagian besar manusia sangat terpengaruh apa yang ditangkap indra mereka. Aku juga orang yang terlalu banyak terpengaruh indra dan dikacaukan oleh hal dari luar diriku. Karenanya sekarang aku mencoba untuk diam sejenak sebelum merespons dan menanggapi segala sesuatu.

 

Memang tak ada yang abadi selain hati dan jiwa. Sekalipun manusia menghadap BAPA, jiwa tetap kekal menyatu dengan hati. Aku mulai mengerti akan segala sesuatu yang terjadi dan mulai mendapat jawaban kenapa selama ini aku dikacaukan perasaan dan kenapa terkadang aku jadi tidak mengenal diriku. Itu semua karena tanggapan orang yang mengaku tahu dan merasa berhak bahkan mengenal aku. Padahal tidak mungkin ada yang tahu secara persis siapa aku sampai dalamnya hatiku kecuali diriku dan TUHAN.

 

Terkadang manusia merasa paling benar sendiri, merasa jauh lebih tahu dan mampu. Namun tak ada sesuatu di dunia yang benar sempurna karena semua yang ada adalah ilusi. Hati dan sabda bukan ilusi. Karena itu benar ketika pastor mengatakan agar aku mengikuti kata hati bukan perasaan

 

Bagus sekali …

Syukur Kunci Kebahagiaan

Wisma Keuskupan, 11 September 2008

 

Berangkat dari percakapan saya dengan mas Ali tanggal 10 September 2008, saya membuat renungan untuk teman-teman. “Kita lebih sering meminta-minta dan mengeluh kepada Tuhan daripada bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Maka kita harus mewarnai hidup dengan bersyukur, berterimakasih dan memberikan diri kita kepada Tuhan. Selama hidup kita harus berusaha berbuat baik  kepada siapapun. Ketika kita berbuat baik kepada semua orang sebenarnya kita berbuat baik kepada diri sendiri. Kita akan menemukan kebahagiaan dengan cara begitu.”

 

Uskup Hilarius Moa Nurak SVD perihal tersebut di atas dalam makan bersama dengan rekan imam di wisma keuskupan 10 September 2008 menegaskan, “Kalau kita terus meminta-minta, maka kita sakit.” Dia merasa tidak mempunyai apa-apa. Kalau dia tidak mempunyai apa-apa maka dia tidak bisa memberikan apa apa kepada orang lain. Maka dia menunggu orang lain memberikan apa-apa kepadanya. Setelah dia diberi apa-apa oleh orang lain, dia tidak bersyukur dan berterimakasih tetapi malah meminta apa-apa.

 

Awal Februari 2008 saya memberi semangat kepada siswa siswi kelas 1-VI SD Regina Pacis Tanjung Pandang Belitung. Saya menyampaikan buah pikiran saya. “Setiap orang harus bermurah hati kepada semua orang, agar semua orang bermurah hati kepada kita. Kemurahan hati harus diwujudkan dengan memberi … memberi … dan memberi. Anda bisa memberikan waktu anda, uang anda, pemikiran anda, tenaga anda, dan lain-lain kepada Tuhan. Semakin anda memberi kepada sebanyak mungkin orang, anda semakin berlimpah. Maka ketika anda mencapai kelimpahan, anda perlu bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan dan sesama.”

 

Menanggapi renungan tersebut Liana dari Kelapa Gading Jakarta utara bertanya, ”Setiap berdoa saya selalu meminta-minta kepada Tuhan. Saya meminta kesehatan untuk anak-anak dan saya. Sekarang saya diajak oleh teman untuk mendoakan Lilin yang terkena kanker. Bolehkah saya meminta kepada Tuhan untuk dia agar dia sembuh? ”

 

Kalau sekedar menjawab pertanyaan anda, maka jelas boleh. “Barang siapa meminta pasti dia diberi.” Pemikiran itu bukan sekedar boleh atau tidak boleh / hitam atau putih. Setiap kita sering diberi oleh Tuhan dan oleh sesama. Anugerah mereka tersebut kita terima. Setelah kita menerima itu banyak sekali orang tidak bersyukur dan berterimakasih. Malah justru meminta lagi. “Anda baru saja memberi uang kepada saya 1 juta. Baru saja saya menerima uang tersebut saya meminta lagi kepada anda 10 detik kemudian. Ucapan terimakasih kepada anda saya belum disampaikan. Bagaimanakah perasaan anda?”

 

Setiap kita menerima, kita berterimakasih. Setiap kita memberi, kita bersyukur  bahwa kita bisa menerima kesempatan untuk memberi. Setiap kita melakukan semua hal dengan syukur dan berterimakasih kepada Tuhan, maka hidup kita melimpah dan bahagia. Syukur dan berterimakasih merupakan kunci kebahagiaan sejati.

Please Give Me a Puppy !

Stress and depression disappear in the presence of a lovable canine companion, racing at full speed to greet you. This is definitely what I need to give my mind a break from stress and lonely feeling that haunt me everyday. Five years of attempt, five years of loneliness, five years of sadness. I have asked for a puppy almost for half of my life and I still haven’t got the idea why I couldn’t have one. I mean, dogs are man’s (and woman’s actually) BEST friend! I believe my family was the only one who’s going to be better than a good, well trained canine companion.

 

Even though, I’m inside an Islamic country, and my maids can’t touch it, so what!! They’re not the one who’s going to take care of my dog; it will be me, and only me. If you say I got no responsibility, time, knowledge, and power for a puppy, you’re extremely wrong. One day, I found a puppy that is not really taken care by his owner. So every day, I give him milk, food and lessons for this puppy. I also wash him, and it seems that I care for this dog more than his owner. The dog also seems so like me better! When you say knowledge, you can see a bookshelf full of dog books inside my room, and I have read each and every single one of it. For time, I’m sure I can wake earlier to take my dog to a walk, and after school, I can spend time with him too. For power, it’s clearly not a problem for dog lovers. We can spend all day long without being tired, playing with a dog! So, how about considering getting me a puppy now? (NN, kelas VI SD, 5 September 2008, Kelapa Gading Jakarta Utara)

Logika Terbalik

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya Karena Aku, ia akan memperolehnya.” (Matius 16:17)

 

Saya sangat terkesan dengan pemikiran seorang pemikir dari jogjakarta, saya lupa buku dan penulisnya. “Ada mau tidak ada mau, asal tidak sepi.”

 

Coba cermati logika kedua pemikiran di atas. Seolah-olah berbeda dengan logika berfikir pada umumnya. Kalau mau, ya mau. Kalau tidak mau ya tidak mau. Kalau mau selamat, ya mempertahankan nyawanya, bukan menyerahkan nyawanya.

 

Apa kekuatan logika di atas? (Pastor Titus Budiyanto, Jalan Batu Kadera XXI N0 545 A Pangkalpinang 33147)

Menunggang Ombak

 

Wisma keuskupan Jalan Batu Kaldera XXI N0. 54 A Pangkalpinang 33147

 

Pengantar

Saya bertugas menjadi staf redaksi Tabloit Berkat, tabloit milik keuskupan Pangkalpinang sejak 2004. Tugas sehari-hari adalah membantu mengelola Tabloit Berkat. Pada jam kerja setiap hari berada di kantor. Di luar jam kerja banyak orang meminta tolong untuk aneka keperluan seperti mencari sumber mata air, mengecek kesehatan, menengok orang sakit di rumah sakit atau di rumah umat, membantu melayani ekaristi ketika pastor paroki di wilayah Bangka Belitung  meminta bantuan, dan lain-lain.  Pastor Calvin, pasto koasi Ujung Beting meminta bantuan kepada saya untuk mencarikan sumber mata air di stasi-sati. Hampir setiap stasi berada di tempat terpisah berjauhan satu sama lain di pulau-pulau di wilayah kepuluan Lingga. Berikut ini cerita pengalaman penulis selama melanglang buana di kepuluan Lingga.  

Pulau Tanjung Pinang – Pulau Pancur

Saya berangkat bersama pastor Marcel Gabriel, pastor Yance dan Piter Padiservus dan Bapak Agung dari pelantar II Tanjung Pinang. Rombongan naik kapal Ferry KM Indo Arena 88 pukul 10.45 wib menuju ke pulau Pancur kepulauan Lingga 23 Mei 2005.  Pastor Calvin menyambut kehadiran kami pukul 15.25 wib.

 Kami meninjau tanah dan rumah sederhana milik gereja di Pancur 100 meter dari tempat kami makan. Rumah tersebut terbuat dari papan kayu dan digunakan oleh bapak Petrus untuk mengajar bahasa Inggris siswa-siswi SD dan SLTP. Kondisi ruang belajar terdapat 10 bangku dan 10 meja kecil. Di sinilah Mgr Hilarius mempunyai mimpi mendirikan pelayanan kesehatan Baktiwara untuk orang-orang miskin, mendirikan sekolah, asrama, gereja bahkan pastoran.  

Kami meninggalkan pulau Pancur pukul 16.45 wib dengan pompong. Perjalanan ditempuh selama 1jam 45 menit. Pukul 18.00 wib seluruh umat menyambut kehadiran kami. Kehadiran imam bagi penghuni pulau diibaratkan pembesar.  Orang sederhana melihat di balik penampilan. Penampilan yang terlihat memanglah manusia biasa. Di balik yang terlihat ada pembawa berkat bagi umat berkat tahbisan imam. Sosok manusia biasa tetapi dia menghadirkan Uskup.   Umat sederhana pun mempercayai juga bahwa imam pun bisa membantu mencarikan dan mengusahakan air bersih untuk mereka.

Renungan pastor Calvin menginspirasikan pencarian sumber mata air bersama umat pukul 09.00 wib tertanggal 24 Mei 2005. “Barang siapa ingin menjadi yang terkemuka, hendaklah menjadi pelayan sekalian orang. Barangsiapa mengandalkan kekuatan Allah, maka ia akan mengalami keselamatan” (Markus 9:30-37).  

Air sering dilambangkan dengan kehidupan. Allah pun dalam Yohanes 6 melambangkan diri-Nya dengan Air Hidup. Manusia tidak bisa hidup tanpa air. Manusia tidak bisa hidup tanpa Allah. Hidup manusia  adalah anugerah Allah. Adalah keharusan bagi orang beriman bahwa dalam hidup harus mengandalkan Allah.  Karena Air adalah sumber kehidupan, maka dalam pencarian sumber mata air saya meminta kepada Allah , pencipta bumi dan segala seisinya. Ranting, pendulum, besi dan alat lain hanya sebuah alat. Yang utama dalam pencarian sumber mata air adalah komunikasi kita dengan Allah.

 Komunikasi dengan Allah menghantar saya memasuki keheningan – ketenangan lahir dan batin. Ketenangan lahir – batin merupakan kunci utama menangkap gelombang listrik yang dipancarkan oleh gerak sumber mata air bawah tanah.

 Meninggalkan Pulau Ujung Beting Menuju ke Pulau Pancur

Pukul 06.45 wib pompong kami meluncur meninggalkan pulau Ujung Beting menuju ke Pulau Pancur di bawah gerimis hujan. Air dari langit memberi kehidupan kepada semua maklhuk hidup, yang baik maupun yang jahat. Dingin pagi dan gerimis membuat kami tidak banyak berbincang di sepanjang perjalanan. Kesunyian lautan dengan di pemandangan gunung Daek bercabang tiga memukau hati kami.  

Pemikiran pastor Marcel Gabriel, bekerja di Komisi Bidang Pendidikan  keuskupan Pangkalpinang menjadi buah pemikiranku. “Setiap manusia mempunyai tujuan. Apa tujuan kalian datang ke pulau Ujung Beting? Apa harapan, cita-cita, impian dalam benak anda ketika anda meninggalkan kampung halaman anda? Apakah setelah sekian lama anda berada di tempat ini tujuan anda sudah tercapai? Bagaimanakah anda mencapai tujuan tersebut?”  

Semua manusia harus mempunyai tujuan. Tujuan tersebut harus diperjuangkan. Dalam perjalanan waktu kita harus berani mengevaluasi perjalanan hidup kita. Sudahkah langkah hidupku menuju ke arah yang jelas atau justru keluar dari relnya? Apakah tujuanku datang ke pulau Ujung Beting? Betulkah ada kerinduan menolong mencarikan sumber mata air atau mau refresing?  

Sementara kami asyik merenung (asyik bergulat dengan diri sendiri) dalam keheningan lautan luas, rantai mesin pompong kami putus. Beberapa menit kami terkatung-katung di laut. Situasi seperti ini mendebarkan bagiku karena aku tidak bisa berenang. Dalam ketakutan saya menengadah ke langit dan berdoa. ”Beginikah upah menolong orang?”  

Sembilan menit setelah saya berdoa dan terkatung-katung di atas sampan, ada kapal nelayan melewati kami. Kami berteriak minta tolong kepadanya. Segera nelayan tersebut datang menolong kami. Padahal nelayan tersebut tidak mengenal kami. Padahal sukunya berbeda dengan kami. Padahal agamanya pun berbeda dengan kami.

Dia mau menolong kami tanpa melihat perbedaan yang ada di antara kami. Yang dilihatnya adalah manusia yang membutuhkan pertolongan dan dia bisa menolong.  Dia menarik pompong kami dengan pompong miliknya. Perjalanannya menjadi lebih lambat dari biasanya, tetapi dia tetap bersukacita. Dia sungguh bijaksana. Bisakah kita yang berpendidikan dan berdomisili di kota mempunyai sikap bijak seperti itu?

Bisakah kita menolong orang tanpa pamrih? Bisakah kita menolong orang karena dia memang membutuhkan pertolongan? Bisakah kita menolong bukan didasarrkan atas suka dan tidak suka, tetapi digerakkan oleh prinsip moral – spiritual? 

Pulau Pancur Melaju ke Pulau Air Batu

Setelah kami kenyang menyantap 1 nasi, 1 gelas kopi, kami berpindah ke speed boat. Kami berangkat dari Pulau Pancur pukul 09.00 menuju ke pulau Air Batu di kepulauan Lingga.

Di tengah gelombang dan laju spead, saya sangat khawatir sekali dengan harta benda dan nyawa. “Bagaimanakah kalau HP 6630, Jam tangan, Digital baru, uang 2 juta, beberapa surat penting terkena air? Pastilah rusak.”  

Status imam sudah melekat. Kelekatan duniawi dan nyawa masih kental. Padahal selaku imam harus berani lepas bebas terhadap segalanya: harta, wanita, kedudukan. Keterikatan hanya membelenggu dan membuat pikiran menderita. Sikap lekat terhadap diri sendiri dan barang menghalangi langkah seorang imam mencapai tujuan. 

 Speed boat kami terguncang hebat oleh arus deras di sebuah selat Potot Kepulauan Lingga. Spead hampir saja terbalik oleh putaran air. Seluruh penumpang pucat terkejut. Wajahku puca pasi. “Saya takut mati, Tuhan!” Ketakutan akan kematian mulai mereda setelah kapal bisa dikendalikan dengan baik.  

 Keramahan Bapak Herman di Pulau Air Batu mencairkan ketegangan kami. Beliau pun juga sungguh santun dan sangat menghormati kehadiran imam. Beliau meyakini bahwa pelayanannya tersebut berkenan di hati Allah. 

 Pulau Air Batu Meluncur Pulau Manik

Setelah kami cukup beristirahat dan makan kenyang di rumah Bapak Herman, kami melanjutkan perjalanan dari Pulau Air Batu ke Pulau Manik dengan pompong bapak Herman. Rantai pompong putus di tengah perjalanan.

Kami terkatung-katung di laut. Kami mencoba bekerjasama mendayung pompong mendekati pulau manik dengan kayu. “Saya takut mati. kalau saya mati maka jasat saya kemana? Kalau tubuh saya hilang tenggelam, saya pulang tinggal nama” 

 Ada bagian yang takut mati. Ada bagian lain sudah siap dengan kehidupan baru. Bagian yang sudah siap dengan kematian berujar kepada bagian yang takut kematian,”Hidup dan mati adalah milik Kristus. Selamanya hidup kita milik kristus. Tidak akan ada yang mampu memisahkan cinta kita dengan Cinta Kristus. Cinta itulah yang membuat hidup selamanya.”

 Hidup harus berdamai dengan diri sendiri. Hidup memang milik Tuhan. Biarlah diatur oleh Tuhan.  Dua penduduk Pulau Manik mendengar teriakan kami. Mereka segera menolong dengan sampan mereka.

Pemikiran pastor Calvin mengacu dari Matius 25:14-15; 19-27.30 meneguhkan kami. “kita harus bekerja dengan  giat. Kita kembangkan talenta, anugerah Tuhan untuk pelayanan dan kemuliaan Tuhan.” Pencarian sumber mata air adalah pelayanan untuk umat. Kita harus  melayani dengan segala konsekwensi demi kemuliaan Tuhan.  

Pulau Air Manik Pulang Menuju Pulau Senayang

Setelah kami selesai ramah tamah dan membantu penduduk pulau mencarikan sumber mata air, kami meninggalkan pulau manik menuju ke pulau Senayang dengan pompong milik bapak Herman. Di atas pompong saya sudah berfikir negatif, « kalau naik pompong milik bapak Herman, pengalaman kemarin bisa terulang kembali. » Pikiran tersebut baru 10 menit berhenti, rantai pompong putus di selat potot kepulauan Lingga (tempat yang sama dengan hari sebelumnya).

Pikiran negatif menjadi kenyataan. Apakah itu kebetulan atau kemampuan rantai pompong sudah buruk ?  25 menit kami terkatung-katung di laut lepas. Tidak ada lagi perasaan takut mati. Yang ada adalah kecemasan jadwal kapal dari pulau senayang ke tanjung Pinang.

Pikiran distel ulang. Segera saya berfikir bahwa rantai segera bisa diperbaiki dan pompong bisa tiba tepat pada waktnya. Pikiran positif dan imaginasi menjadi kenyataan. Mas Agung berhasil menyambung rantai putus dengan perlengkapan ala kadarnya. Sebagai seorang beriman saya melihat bahwa ini juga pertolongan Tuhan. Pukul 07.50 wib kami sudah berada di dalam kapal ferry KM Indo Arena 88 jurusan Senayang Tj Pinang.  

Penutup

Mimpiku membantu mencarikan sumber mata air sudah terwujud. Proses pencapaian tujuan membawa pada pengalaman ke pengalaman indah. Pengalaman tersebut mendidik diri agar semakin bijaksana. Saya berharap para pembaca juga peka terhadap sapaan Allah melalui perristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali Allah bisa berbicara melalui peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Kalau hati kita terbuka dengan sapaan Allah, maka kita mendapat pelajaran indah. Pelajaran-pelajaran dari pengalaman ini menghantar kita semakin lebih dewasa.

 

Iman Secuil Sawi

Keuskupan Pangkalpinang

Bapak Anonius Tjong Li adalah salah seorang penduduk di pulau Mengkait kepulauan Anambas. Dia orang tionghoa tetapi dia memperkenalkan dirinya sebagai suku laut. Identitas ini dikenakan kepadanya karena dia tinggal di laut, hidup dari laut, setiap hari bergelut dengan laut. Mata pencaharian utama dia dari laut. Dia bagian tak terpisahkan dari laut. Bahkan dirinya mengibaratkan bahwa laut adalah saudaranya. 

Awal mula pegangan hidupnya adalah kepercayaan (animisme). Setelah orang-orang Flores beragama katolik masuk ke wilayah pulau Mengkait di wilayah kepulauan Anambas (kepuluan Tujuh), dia mulai mengenal agama katolik. Dia memutuskan untuk masuk menjadi agama katolik “Allah sangat dekat dengan saya! Saat saya menerima sakramen maha kudus atau mendengarkan sabda Tuhan, disitulah Allah dekat dengan hati saya. Ini keyakinan saya.” 

Iman bahwa Tuhan sangat dekat dengan manusia sangat berdampak besar dalam kehidupan. Kisah nyata anak manusia suku laut ini pernah terjadi ketika dia naik perahu dari pulau mengkait ke pulau Tarempa 22 Desember 2007.  katanya kepada penulis,“Saya naik pompong (perahu kecil) dari pulau mengkait pukul 2.00 wib. Sampai di pulau Tarempa pukul 07.00 wib. Waktu berangkat hati harus mantap! Kemantapan hati menerjang gelombang laut setinggi 5 meter harus ada! Kalau hati ada keraguan, maka saya tidak melaut! Keraguan bisa mencelakakan, sedangkan kematapan hati pasti membawa keselamatan! Saya yakin kalau Allah di pihak kita, pastilah saya selamat!”  

Tjong Li tidak berpendidikan tinggi. Namun demikian ia mempunyai iman bahwa Allah menyertainya. Kalau Allah menyertainya, maka dia pasti selamat. Keyakinan bahwa dia selamat ini membuahkan kemantapan hati. Mampukah kita mempunyai iman secuil seperti anak suku laut ini? Semoga. (Pastor Titus Budiyanto, wisma keuskupan Jalan Batu Kaldera XXI N0. 545 A Pangkalpinang, 7 Januari 2007).    

Keluar dari Kubangan

Keluar dari Kubangan

wisma keuskupan Jalan Batu kaldera XXI N0. 545 A Pangkalpinang 33147   

Menjelang senja seorang wanita datang ke kompleks kesukupan. Dia menenteng plastik merah. Plastik itu berisi pakaian-pakaian kumal. Dia mencari seorang imam di kompleks keuskupan Pangkalpinang. Om Zakarias, penjaga malam mengusir wanita tersebut. Dipikirnya dia tidak waras. Karena bincaranya tidak jelas. Lidahnya cedal sejak kecil sehingga dia tidak jelas berbicara.  Dia mengakui Omaini. Lain waktu ia memperkenalkan diri sebagai rosa. Rosa dalam bahasa latin adalah bunga.

Rosa adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia dilahirkan dari pasangan Siti dengan Murhaden. Dia tidak ingat tahun kelahirannya sendiri. Kampung halaman sekaligus tempat kelahirannya masih diingatnya. Desa Batu Putu Sukrame Lampung itulah asal usulnya. Orang tuanya menyekolahkan Siti di Sekolah Dasar Negeri III Parendoan Lampung, tidak jauh dari kampung halamannya. Ketidakjelasan identitas ini membuat penghuni keuskupan ragu untuk menerima dia. Siapa tahu dia tidak waras atau penipu.  

Rosa datang lagi 10 menit kemudian. Dia berusaha mendapatkan seorang imam. Melihat kenekatan Rosa, om Zakarias taklhuk. Dipertemukanyalah dia dengan pastor Beny Balun, Sekjen keuskupan. Dia mengaku di hadapan beliau bahwa ia adalah pelarian dari parit VI pangkalpinang Bangka. Parit VI adalah tempat pelacuran ternama di kota ini. Rosa minta perlindungan dan pertolongan dari seorang imam. “Saya lari dari parit VI. Saya mau pulang ke Lampung tetapi tidak mempunyai uang. Tolonglah saya!” ujar Rosa alias siti meminta. 

Menguji kesungguhan hati dan kejujuran hati si siti, pastor Benny memintanya untuk datang kembali esok 6 Februari 2007 jam 08.00 wib. Kalau dia berani datang maka dia sungguh memerlukan dan tidak menipu. Melihat kesungguhan dan keberanian anak ini, maka Siti alias Omaina coba dipesankan tiket kapal laut dari Pelabuhan Mentok ke pelabuhan Boom Palembang. Dari palembang ia dibelikan tiket kerata api ke Lampung. Tiket kapal laut dan uang pembelian kereta api bisa diambil pukul 16.00 wib di wisma keuskupan pangkalpinang.   

Siti datang kembali ke keuskupan jam 07.30 wib. Dia meminta tiket yang dijanjikan kemarin. Dia tidak menepati waktu yang ditetapkan kemarin. Tiket kapal laut sudah dikembalikan ke agen. Maka permasalahan tersebut diserahkan kepada ibu Sito Kadari yang bekerja di keuskupan. Dia menangangi KBG di keuskupan Pangkalpinang. Dia diminta oleh pst Beny Balun untuk menangani masalah Siti. Kepercayaan ini dilimpahkan kepadanya, karena dia mempunyai relasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).  

Sito Kadari dan Pengurus LSM berhasil menghubungi mami Rosa di Parit VI. Tidak lama kemudian mami, sang germo datang ke keuskupan. Kemunculan germo ini membuat kecut si Siti, sehingga dia lari terbirit-birit melihat hidung belang mantan bosnya. Sang Germo mengakui di hadapan Sito dan pengurus LSM bahwa Siti alias Rosa adalah anak buahnya. Dia tidak mau sibuk berurusan dengan polisi. Maka dia memberi uang Rp. 2000.000 (2 juta rupiah) kepada Rosa melalui Sito untuk beaya tranportasi Rosa dari Pangkalipinang ke Lampung. Dengan bekal uang itu Omaini alias Rosa pulang naik pesawat melalui Jakarta ke Lampung.   

Sebelum meninggalkan keuskupan dia mengisahkan masa lalunya kepada BERKAT. “Setelah Tamat Sekolah Dasar, saya tidak lagi melanjutkan ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Beaya sekolah di SLTP besar. Orang tua tidak mempunyai banyak uang. Hasil penjualan singkong mama kecil. Hasil memancing bapak juga tidak cukup untuk membeayai sekolah.”  Dia berhenti sambil menutup mulutnya dengan tangannya. Dia menahan geli ketika dipanggil rosa. Dia meminta kepada BERKAT agar memanggilnya Siti.  

Ada wanita Tionghoa. Dia bernama Imel. Imel menawarkan pekerjaan kepada Siti untuk bekerja di restoran. Siti tergiur dengan iming-iming Imel, maka dia menerima tawaran tersebut. Secepatnya Siti dibawa oleh Imel ke Parit VI.

Betul dia bekerja di warung restoran milik Yuli. Tetapi dia sekaligus diminta melayani tiap lelaki hidung belang yang datang ke tempat itu. “Saya dibawa oleh imel dari lampung ke parit VI. Saya pikir saya bekerja di restoran. Tidak tahunya saya bekerja warung minuman sebagai lonte (pelacur). Setelah tamu-tamu tersebut minum, saya dibawa ke kamar. Saya disuruh untuk melayani laki-laki yang datang di dalam kamar. Kadang saya ditaboki oleh laki-laki hidung belang itu. Mungkin birahi membuatnya emosional. Mereka sering naboki (memukuli) saya. Saya sungguh tidak tahan. Saya lari dalam kondisi tubuh sakit. sekarang saya bangga bisa lepas dari Lumpur maut dan sebentar lagi berjumpa dengan orang tua.”  

Selesai menuturkan kisah hidup nyatanya, Siti meraih tas hitam pemberian salah seorang penghuni kesukupan.. Dia melangkah kearah mobil  putih L300. Bapak Yosef, sopir keuskupan mengantarnya ke Bandara Depati Amir Pangkalpinang. Jejak singkat wanita lugu dari Lampung ini meninggalkan bekas. Perjuangan orang lemah melepaskan diri dari taring-taring maut singa. Semoga dia mengalami kemerdekaan.

 

 

Lupa Sejarah

Keuskupan Jalan Batu Kaldera XXI N0. 545 A Pangkalpinang 33147     

Masalah demi masalah datang melanda bangsa kita silih berganti. Masalah yang satu ditimpa masalah lain. Seringkali justru masalah tersebut dimunculkan agar mmasalah sebelumnya tertutupi. Orang akan sibuk dengan masalah baru, dan diharapkan orang lupa dengan masalah sebelumnya. 

Orang mudah melupakan hal penting, maka kelemahan ini dipakai oleh orang yang mempunyai hati busuk. Pembunuhan di kantor PDI Perjuangan Jakarta, penembakan mahasiswa tri sakti belum ada penanggungjawab utama, penembakan mahasiswa di jembatan semanggi, pembakaran beberapa supermarket oleh hantu-hantu hidup, pemerkosaan-pembunuhan-penjarahan di hari sabtu kelabu 1998, banyak pembunuhan di timor-timor, dan banyak pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia sudah terlupakan oleh bangsa kita. Padahal semua itu belum diselesaikan dengan tuntas oleh pemerintah.  

Mungkinkah ada pihak-pihak yang menghendaki agar masyarakat lupa dengan semua kejahatan-kejahatan semua di atas? Apakah aneka masalah yang datang setelahnya tanpa kesengajaan seperti pembunuhan munir, peledakan bom di bali atau di beberapa hotel di Jakarta, pembunuhan beruntun di poso sampai ada yang dituduh sebagai dalang di balik semua itu, konflik yang meluas di Ambon menimbulkan banyak korban jiwa, dan seambreg permasalahan menutupi permasalahan-permasalahan sebelumnya.

Kita lupa dengan masalah-masalah penting masa lalu, karena masalah baru timbul atau dimunculkan? Boleh jadi para penjahat bersorak sorai dengan tragedi bencana alam. Para koruptor bisa tidur nyenyak dengan tragedi bencana alam beruntun dari tahun ke tahun. Tjunami di aceh menelan ribuan nyawa. Gempa di Jogjakarta meluluh lantakkan banyak bangunan dan merenggut jiwa manusia. Gempa di Pangandaran, Nias, dan di tempat-tempat lain merusak tatanan yang ada dan meminta tumbal manusia. Pengeboran Lumpur lapindo di Surabaya menenggelamkan banyak rumah-rumah penduduk miskin (olah penanggungjawab pengeboran belum mampu menangani secara sempurna). Banjir bandang di kota Jakarta tahun 2207 menelan trilyunan dan nyawa tak bersalah. Kereta api anjlok dari rel engakibatkan penumpang meregang nyawa. Adam air hancur berkeping-keping, mungkin jatuh di laut, membuat penumpang sampai saat ini nasibnya tidak pasti, dan yang pasti adalah mereka mati.  

Bencana alam dan bencana akibat kelalaian manusia ini dihembus-hembuskan ke tingkat internasional. Boleh jadi para koruptor atau pelanggar hak asasi manusia bergembira karena data-data bisa termusnahkan oleh bencana atau fokus pemerintah berbelok ke masalah urgen, yakni bencana.  Rakyat kecil dan orang lemah tidak lagi menuntut mereka semua, karena sibuk mengurus sanak saudaranya yang menjadi korban alam atau kelalaian manusia. Apakah kejadian seperti itu merupakan kemenangan telak para penjahat, para pemerkosa, para pembunuh, para koruptor, para pelanggar hak asasi manusia?  

Kita seharusnya bisa belajar dari sejarah konyol permainan seperti itu, tetapi kita bisa mudah dipermainkan dengan cara-cara seperti itu. Kita mau memilih pihak penjahat atau dipermainkan para penjahat? Mari kita harus belajar dari sejarah: jangan pernah melupakan masa lalu, dan jangan kompromi dengan para penjahat.