Itu Wine

Pertapaan, 1 Juli 2009
Saya sering mendapatkan perlakuan yang menyakitkan hati, meskipun saya menolong. Tapi harus bisa memaafkan. Ini kadang terasa berat. Sulit ini. Saya sudah serahkan kepada Tuhan, biar Tuhan menjamahnya. Saya berusaha tidak mengingatnya. Kalau mengingat salahnya terus bisa marah-marah gak abis-abis dan sakit hati.

Masuki tubuh orang itu, pahami cara pandang dia (dunia dia). Apapun perilaku bisa dipahami dari sisi dunia orang itu. Temukan intensi baik di balik perilaku , yang tidak anda setujui dan saudara-saudarimu setujui. Setiap perilaku pada umumnya mempunyai intense baik, walaupun perilakunya sering kurang bisa diterima oleh banyak orang.

Memahami sih sudah ya tapi untuk membuat dia tahu bahwa dia itu salah, gimana caranya? Dia mau menang sendiri. Dia Cuma berkomunikasi ama saya saja, dengan yang lain bentrok semua. Maksud saya agar dia itu introspeksi diri. Mengapa semua sodara gak suka dia. Semua saudara diajak rebut. Justru ama bapak aja yang masih dia ajak bicara. Kalau diikutin, dia nuntut lebih dan lebih lagi. Padahal kita mau mengimbangi dan damai aja.

Buatmu pasti bisa menyelami dunia dia, karena kau sering menghadapi banyak orang dengan segala macam masalah tetapi buat saya gak mudah untuk melakukan hal itu. Sudah banyak cara kok masih gak bisa mengubah dia. Maksud saya mengubah dia yakni biar bisa damai dengan saudara dan keluarganya. Kalau dia mau introspeksi diri, kenapa yak ok semua tidak cocok dengan dia, begitu banyak orang. Berarti yang gak beres khan dia. Tetapi dia tetap ngotot yang paling bener dan sama sekali tidak mau denger orang mau bicara apa. Contohnya: dia main ke rumah anaknya. Terus dia ikut ngatur pembantu, sopir, sampai rebut. Anak diancam pilih mereka atau dia. Padahal pembantu dan sopir tidak ada masalah sebelumnya. Kenapa dia ikut campur rumah tangga orang meskipun itu anakkan sudah berkeluarga.

Perubahan harus dimulai dari diri sendiri dalam memandang persoalan, mendengar persoalan, merasakan persoalan, mengecap persoalan, memikir persoalan. Sekiranya hasil penglihatan, pendengaran, perasaan, pemikiran, pengecapan, pembauan adalah perasaan menyakitkan hati, maka evaluasilah diri. Coba untuk membantumu, ini apa? (saya mengirim foto botol ice wine berisi tea kepada dia)

Itu wine tinggal separoh.

Apakah kau yakin dengan jawabanmu itu?

Ya saya yakin karena kau mengirimkan kepadaku.

Kau tadi berkata, “ itu wine tinggal separo.” Dan kau yakin akan hal ini karena kau yakin terahadapku. “Ya saya yakin karena kau mengirimkan kepadaku.” Padahal dilihat, dirasa, dikecap, dibaui itu bukan wine. Realitas sebenarnya adalah botol ice wine berisi tea. Nah, botol berisi tea tersebut ibarat saudarimu.

He he iya ya

Pandanganmu terhadap dia adalah seperti tuturanmu di atas di awal pembicaraan kita (atau ibarat kau gambarkan wine separo padahal botol wine berisi tea). Nah ternyata gambaranmu tidak sesuai dengan realita orang itu sekalipun ada kebenaran di dalamnya. Saya menjadi lebih mengerti atas hasil penilaianmu bila saya memahaimi persepsimu bahwa “ “Ya saya yakin karena kau mengirimkan kepadaku.”. Kau mempunyai keyakinan dan keyakinanmu menghasilkan gambaran kurang sesuai dengan situasi real botol wine berisi tea. Demikian juga saudarimu tersebut juga memiliki segudang keyakinan, pengalaman, agama, religiositas, identitas. Semua itu mempengaruhi perilakunya.
Saya agak plong sekarang. Oke berlimpah terimakasih.

si Rambut Panjang

Gua maria Yung Fo, 25 Juni 2009

Di POM bensin Belinyu bangka adalah bekas pekuburan tua cina. Tulang tulang dipindahkan oleh pemilik POM bensin ke lokasi baru dengan adat cina. Menurut Afuk, mang dahlan (almarhun) dan yuyun kepala bengkel, tempat tersebut dihuni oleh wanita berambut panjang terburai sampai ke tanah.

Penjaga malam POM bensin tidak percaya dengan cerita mereka. Bahkan dia tidak takut terhadap makhluk halus. Kata penjaga malam menanggapi cerita rekan kerjanya,”setan, hantu dan jin tidak takut.”

Malam hari ketika penjaga malam akan naik ke tangga rumah di kompleks POM Bensin, kedua kaki tidak bisa diangkat seperti tertanam di dalam tanah. Menyadari situasi seperti itu sekujur tubuh basah dengan keringat dingin. Dalam kondisi seperti itu dia teringat percakapan tadi siang dengan afuk, yuyun dan mang dahlan.

Si penjaga malam berkata ,” tadi siang mungkin aku kelewatan bercandanya. Jadi penunggu marah. Aku minta maaf kalau tadi siang aku hanya bercanda. Aku ke sini hanya mencari makan dan tidak ada maksud lain.”

Ketika dia selesai berbicara dalam hati, kedua kaki baru bisa melangkah memasuki rumah.

Ini sekedar kisah penjaga malam. Sikap anda terhadap cerita serupa bisa berbeda dan dalam kondisi yang sama kita juga bisa menyikapinya dengan berbeda. Mungkin kita berdoa atau bersikap rendah hati?

Santet Penyebab Ajal atau AIDS

Keuskupan pangkalpinang, 18 Juni 2009

Seorang keluarga menghubungi untuk meminta doa seorang pemuda, yang diduga kena santet. Disarankan untuk memeriksakan penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) ke rumah sakit di Jakarta. Reaksi spontan keluarga atas saran tersebut adalah pingsang dan menolak kenyataan. Setelah melalui pergumulan, keluarga menerima saran dan memeriksakan dia di Jakarta. Hasil pemeriksaan ternyata + (positif) bahwa dia mengindap AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). Penyakit tersebut sudah merenggut nyawanya 2 tahun yang lalu.

Beberapa orang menemui untuk melihat seorang pemuda, yang diduga kena guna-guna. Menilik fotonya si pemuda masih sangat ganteng. Kegantengan bukanlah penampilan sesungguhnya. Disarankan kepada keluarga untuk pemeriksaan di rumah sakit. Hasil laboratorium menyatakan bahwa dia positif (+) AIDS dan bukan terkena guna-guna. Dia meninggal 1 tahun yang lalu.

Seorang ibu rumah tangga menghubungi untuk menengok adik kandungnya. Dia sudah lama menderita sakit berkepanjangan. Beberapa organ tubuh tidak berfungsi. Dia menderita berkepanjangan. Beberapa orang mensinyalir bahwa dia terkena ilmu jahat. Asumsi orang atas si sakit runtuh ketika medis membuktikan bahwa ternyata dia positif AIDS. Beberapa waktu yang lalu dia sudah masuk ke liang kubur.

Beberapa orang datang meminta doa untuk seseorang di luar negari. Menurut penuturannya teman teman dan dirinya sudah berusaha untuk berobat. Usaha tersebut sia-sia. Kondisi semakin rapuh. Apakah mungkin sumber sakit berasal dari kuasa gelap. Pemikiran tersebut runtuh setelah pihak rumah sakit di Negara canggih itu dan di Jakarta sudah positif mengeluarkan hasil laboratoriumnya. Dia mengindap AIDS. Sekarang dia semakin kurus dengan penyakit yang dideritanya dan menunggu ajal menantinya.

Seseorang sepulang dari melayat di pasir putih Pangkalpinang Bangka menuturkan kisahnya. “Para tetangga takut datang melayat karena dia AIDS. Istri pertama lari meninggalkannya dan mati terkena AIDS di Jakarta. Sekarang giliran dia meninggal dunia direnggut AIDS. Dia meninggalkan istri kedua dan seorang anak. Anehnya anak tersebut masih sehat dan istri kedua tinggal di sungailiat. Apakah orang mati yang mengindap AIDS bisa menularkan penyakitnya?” Wanita itu akan menikah dan melahirkan anak. Sangat mungkin sekali anak dan isteri tersebut juga mengindap AIDS.

Pada waktu seseorang sakit berkepanjangan padahal dia sudah berobat ke rumah sakit beken dimana-mana, dia sering menduga bahwa dia terkena santet, guna-guna, barang, dibuat orang dan lain-lain. Ketika orang putus asa dengan segala daya dan upaya, dia mudah tergiring berfikir irasional dan mengkambinghitamkan. Padahal menyimak data di atas kita menjadi sadar bahwa sakit AIDS adalah ulah dari dirinya sendiri , pasangannya atau orang tuanya.

Mereka sudah meninggal, tetapi mereka masih meninggalkan jejak hitam ke pasangan, anak, dan orang-orang yang pernah berhubungan intim dengannya. Orang-orang itu sekarang ini masih berada di sekitar kita.

Kemanakah Reliogiositas Agamawan

keuskupan 10 Juni 2009

Pukul 1430 wib, 8 Juni 2009 Atai Indri duduk kaku di atas kursi tua di Pasir Putih Pangkalpinang Bangka Indonesia. Seluruh tubuh basah terguyur air hujan. Debu-debu menghiasi tubuh renta. Wajah keriput diterpa ketakutan mencekam. Atap genteng rumahnya kabur digulung badai. Dinding kayu tua jebol diikat oleh angin yang mengamuk. Orang-orang kaya duduk aman di dalam gedung batu berselimutkan wool sutera dan memandang pemandangan di depan mereka sebagai sebuah hiburan atau lelucon. Penderitaan di depan mata mereka tak menggetarkan hati untuk menolong atai renta tak berdaya.

Apakah mereka juga dicekam ketakutan seperti atai tua itu atau rasa kepedulian terhadap yang menderita sudah sirna oleh ego. Kemanakah nilai-nilai keagamaan yang ditimba di gedung-gedung keagamaan? Apakah nilai-nilai tersebut sempat diinternalisasikan atau sekedar masuk di sisi kanan telinga dan keluar dari sisi kiri telinga.

Kebalikan

Keuskupan Pangkalpinang, 31 Mei 2009

Panca indera bergerak seperti awan tertiup angin,
Hati lugu dengan pijakan Firman kekal dari abat ke abat.

Banyak orang meyakini bahwa keunggulan panca indera adalah yang utama, sedangkan kerendahan hati adalah kebodohan.

Ketika seseorang atau suatu bangsa yang mengedepankan panca indera sebagai yang utama , maka timbullah kesombongan. Padahal kesombongan bisa memporakporandakan bangsa, dan Kuasa Allah mempersatukan bangsa.

Kehidupan sering terbolak balik dari semua hal di atas

Sentuhan Ilahi

Keuskupan Pangkalpinang, jam 2135 wib, 25 Mei 2009

Seorang wanita menangis di depan sebuah gua. Berulangkali dia memukul-mukul dadanya. Sekali waktu kepalanya dipukul-pukul. Suara lantang ia berkata, “ Tuhan, kata temanku, dia melihat suamiku bersama dengan wanita di pantai. Kata suamiku memang benar bahwa dia bersama dengan wanita di pantai. Aku memaafkan dia karena aku mencintai dia. Tetapi bulan kemarin wanita itu menelpon ke hand phone saya. Pada waktu saya mendengar suara di sebarang, ternyata suara suami dan wanita itu. Yang sangat menyakitkan bagi saya adalah dia mau wanita itu dan mau juga dengan aku. Dia ambigu. Aku sekarang mau menenggak racun maut untuk melepaskan rasa penderitaan hidup.”

Kesadaran Si Acong berpendar ke seluruh pertapaan. Peperangan budaya kehidupan dengan kematian berpendar jelas ke seluruh gua. “Yesus pernah dikhianati Yudas, namun demikian Dia masih melanjutkan tanggungjawabnya untuk menyelesaikan karya penebusanNya. Pengkhianatan seringkali bentuk pemurnian diri. Ketika anda mengetahui bahwa anda menapakkan kaki di bekas-bekas jejak Yesus, ada semakin mampu menemukan rencana Allah melalui peristiwa pahit.”

“sekalipun Yesus pernah dikhianati oleh Yudas, Dia tetap melanjutkan karyaNya. Saya menerima dan memaafkan dia, dan saya melanjutkan tanggungjawab sebagai seorang ibu bagi 3 anak. Kematian justru menghantar anak kepada penderitaan. Penderiaan melahirkan penderitaan baru. Puncak Golgota sebagai motivasi dan kesuksesan anak sebagai pendorong kehidupan.” Wanita itu menoleh kearah Acong di atas batu putih. “Aku sudah berdosa karena berulangkali aku bertekat menenggak racun. Apakah Dia mengampuniku?”

Si Acong melantunkan lagu, “kasih pasti lemah lembut. Kasih pasti memaafkan. Kasih pasti murah hati. Kasih-Mu kasih-Mu Tuhan. Ajarilah kami saling mengasihi. Ajarilah kami saling mengampuni. Ajarilah kami kasih-Mu ya, tuhan. Kasih-Mu Kudus tiada batasnya.”

Pemudi di samping si Ibu ikut tersihir dengan lagu sederhana tersebut. Setelah si Acong berhenti menyanyi, dia menyambar. “Tuhanlah engkau gembalaku. Aku tak kekurangan. Dia membaringkan daku ke padang rumput yang menghijau. Dia membimbingku ke air yang tenang. Ia menuntunku di jalan yang lurus. Oleh karena Kasih-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman.”
Beberapa pemudi dan pemuda ikut nimbrung bersama dengan si pemudi. Kebersamaan nada menarik hati untuk mendekat dan menguatkan. Si Acong pergi ngeloyor meninggalkan mereka dalam suka cita. “Selanjutnya Roh Mu bekerja setelah peristiwa ini. Terimakasih Roh Kudus.”

Sebungkus Nasi Padang

Keuskupan Pangkalpinang, 24 Mei 2009

Seorang pengemis duduk di tepi jalan. Dia menadahkan tangan kanan ke atas. Ia menatap si Acong yang duduk di atas motor crypton. Dengan wajah memelas dia berujar,“Cepek den! Den, cepek! Hari ini saya belum makan den! Lapar.”

Acong tersenyum melihat dia. Dia meninggalkan pengemis itu menuju ke warung Padang di Jalan Mentok Pangkalpinang. Dia membeli 1 bungkus nasi padang. Sebungkus nasi padang berisi nasi, sayur kacang panjang, sambal, ayam goreng dan ikan goreng. Dia kebut motor cypton tua ke Jalan itu. Dia dekati pengemis itu. “Emas dan perak tidak ada padaku. Yang ada padaku sebungkus nasi padang untukmu. Perutmu menjadi kenyang dengan sebungkus nasi ini. Selamat menikmati!”

Pengemis menerima dengan tangan terbuka. Dia mengucapkan 33 x kata terimakasih kepada si Acong. Acong tersenyum menatap wajah tua renta di tepi jalan itu. Dia naik ke atas motor crypton tua dan menancap gas sekencang burung walet meluncur. “Perutmu kenyang di hari minggu. Besok Tuhan juga mengenyangkan engkau. Dia memelihara burung pipit. Dia juga memeliharamu.”

Gajah di Pelupuk Mata

Keuskupan Pangkalpinang, 22 Mei 2009

Acing, Saya mengurus sendiri segala sesuatu

Acong: Sendiri? Kau mengurus sendiri Anak, keluarga, keuangan, rumah dan lain-lain?

Acing: rumah, keluarga. keuangan.

Acong: Selama ini yang mencari uang siapa? apakah kau juga yang mencari uang?

Acing : Ya semua… Hanya kerja yang gak.

Acong: Waktu kau pergi ke gua Maria yung Fo atau ke tempat lain apakah kau juga membawa anak? Apakah pembantu dan suster hanya menjadi penonton di rumah?

Acing: iya juga, mesti kita yang atur.

Acong: Apakah kau mencuci gelas sendiri? Apakah kau mencuci pakaian sendiri? Apakah kau mengepel lantai rumah sendiri? Bukankah mereka dikerjakan oleh pembantu dan suster? Jika demikian kau mempunyai rekan dalam mengurus rumah tangga

Acing: Iya la . Ampun deh… Maksudnya ku dak kepegang urus hati Yusuf , urus kesehatan, sekolah sudah keteter… Gitu bosss. Yusuf Aktif. Pikirannya jauh. Dia gak bisa diurus. Pembantu urus yang kecil, dek dek… Ku juga gak sanggup, makanya sekarang mau lebih focus ke pengembangan hati daripada mendidik anak.

Acong: Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu pada Yusuf atau Kau tak bisa menundukkan egomu sendiri? Kau posisikan Yusuf anak kandung atau anak orang lain

Acing: Iya nanti dicoba. Lebih baik. Anak sendiri la. Aset. Besar. Sangat Penting. Hanya saya gak sabar. Ngurus nya.

Acong: Nah kau menyadari bahwa kau gak sabar. Berarti kau sudah menemukan letak persoalan di kamu dan bukan di Yusuf.

Acing: Selama ni semua sesuka hati saya gak ada yang atur, terlalu bebas, kadang jadi keenakan. Ku tidak mampu, dan kesulitan juga. Tidak lah. kini ku sudah mau benar-bener berusaha. Paling tidak jangan marah-marah lagi. Mau lebih manis, sabar kaya pastor. Sebenarnya jiwa saya yang rusak. Dalam bayangan terakhir saya meliat orang gila, tetapi langsung saya rapikan… Saran pastor memperbaiki diri sangat membantu.

Acing: Mau tahu lagi, jadi anak paling kecil, gak enak… Diremehkan terus… dibesarkan oleh orang tua tiri dengan lima anak sangat kentara perbedaan mendidiknya. Jadi gak percaya diri. Rendah diri, tidak ada motivasi.

Saya kurang kasih sayang. Orang tua cuek. Mereka masa bodoh terhadap semua anak. Mereka sibuk terhadap urusan diri sendiri. Saya adalah paling kecil dari 4 kakak tiri. Mereka sering diremehkan oleh mereka. Mereka lebih berkuasa, lebih mampu. Mereka orangnya sok dan berkuasa. Mereka sangat memposisikan tinggi. Saya tidak berdaya. Saya sering disalahkan dan dicemooh oleh mereka. Mereka sering memaki, “Elu bego sekali! Kau anak Tuhan atau anak kampong?” Saya serba salah. Saya bingung selama hidup dengan mereka di rumah mereka (orang tua tiri dan kakak-kakak tiri). Karena saya diperlakukan seperti itu, waktu kecil saya sudah bertekat bahwa kalau saya punya anak, saya tidak mau meninggalkan anak. Tetapi saya justru saya memperlakukan Yusuf seperti dulu saya diperlakukan oleh mereka.

Acong: Jadi kau menyadari persoalan pribadimu berimbas ke Yusuf. Menyimak latar belakang masa kecilmu dan kondisi seperti itu, maka siapa yang perlu introspeksi dan memperbaiki diri, kau atau Yusuf?

Acing : Maka dari itu prioritas saya adalah pendidikan hati untuk kedewasaan dan penyembuhan diri.

Acong: Oke bagus sekali, kau sudah menyadari masa lalu. Masa lalu mempengaruhi perilakumu sekarang di dalam mendidik Yusuf. Sejarah hidup kecil di dalam keluarga tiri, terulang lagi di dalam diri Yusuf, yang adalah juga anak tiri. Petiklah hikmah masa lalumu, yang pahit untuk kemajuan pendampinganmu terhadap anak tirimu, Yusuf. Jika kau menempatkan Yusuf sebagai anak tiri, maka besar atau kecil menyeretmu ke masa lalumu. Bahkan sikapmu terhadap kedua anakmu jelas sangat berbeda. kau justru memilih mendampingi intensif Yusuf dan menyerahkan anak kandungmu , si kecil kepada suster.

Acing: tidak. Sama aja, karena Yusuf lebih susah diatur… Tidak lah, intinya saya gak pintar mengurus anak…

Acong: Tadi sebelumnya kau mengatakan bahwa kau kurang sabar, rendah diri, kurang PD, diremehkan dan lain-lain. Kecenderunganmu tersebut berimbas terhadap keluarga dan relasi dengan sesama. Kau sering memaksakan kehendakmu terhadap Yusuf?

Acing: justru saya lebih dekat dengan Yusuf, Dia tidak memakai suster untuk merawatnya.

Acong: Kau tidak menjawab persoalan, tetapi kau cenderung membela diri atau tidak menyadari letak persoalan ada pada diri, dan bukan pada orang lain.

Acing: ya ku tidak pintar mengurus anak. Aku hanya tahu teori. Jiwa dari kecil tidak terlatih untuk bekerja.. Tahu enak-enakan doing. Aku adalah Anak bawang.

Acong: Anda mempunyai 2 anak. Di pandanganmu, kau hanya tidak bisa mengurus Yusuf tetapi kau bisa mengurus dek-dek. Berarti kau pintar mengurus anak. Hanya saja apa yang membuatmu lebih fokus mendidik dan mengurus Yusuf, anak tiri daripada dedek , si anak. Yang mengherankan pastor adalah apa membuatmu tega menyerahkan anak kandungmu kepada pembantu untuk mendidiknya. Apakah kau merasa tidak mampu mengurus Yusuf dan si kecil? Atau kau sengaja mau mengulang sejarah hidup?

Acing: Filosof kosong yang salah saya tangkap. Keadaan keluarga orang tua tiri saya yang aneh. Keluarga dimana saya diasuh, membuat tidak ada cinta buat saya… Baru Ini aku mengetahui rasa sayang dan cinta kasi. Bodoh ya? Itulah yang terjadi. Yang ada hanya kebenaran saya dan orang lain adalah salah. Habis mau bagaimana. Saya mesti berbenah jiwa saya yang rusak terlebih dahulu daripada nanti semua ikut rusak.

Acong: Kau tadi mengatakan bahwa “kau adalah anak terkecil/bungsu dalam keluarga. Nggak enak. Kau juga bilang bahwa kau Diremehkan terus… Tapi sekarang saya uda enak. Jadi tidak percaya diri. Rendah diri.” Nah setelah kau menyadari bahwa persoalan ada padamu yakni rasa rendah diri dan jiwa terganggu (rusak), disepelehkan, apakah kau masih tetap ngotot bahwa Yusuf sulit diatur atau kau perlu memperbaiki diri?

Acing: lebih ke saya yang mesti dibenahi… Saya harus menerima sesuatu yang pahit. Saya mengetahui penyebabnya. Saya lebih percaya diri sekarang. Sekarang setelah saya mengerti bahwa masa lalu saya, menerima dan memetik hikmahnya saya menjadi lebih sabar, hari-hari diwarnai dengan senyum.

Acong: Bagus sekali kau sudah menyadari bahwa “Habis mau bagaimana, saya mesti benah jiwa saya yang rusak Dulu… dari pada nanti semua ikut rusak.” Jadi titik persoalan sekarang terletak padamu atau kedua anakmu? Wow, bagus kalau kau menyadari bahwa kau perlu membenahi diri

Acing : Tahu

Acong: Sebelum kau pergi, apakah kau mencintai kedua anakmu atau kau membencinya sehingga kau serahkan pendidikan anak kepada suster dan kau menyalahkan Yusuf si sulit di atur

Acing : Iya saya sudah tahu, makasih.

Geser Fokus

Pantai samfur 16 Mei 2009

Seseorang memaparkan keadaanya. “Sebelum melahirkan anak kedua, muntah-muntah dan pingsan. Sulit tidur setiap hari. Kepala pusing dan asam lambung meningkat. Kejadian terbayang kemanapun pergi.”

Seorang begawan,” jenius. Sekali peristiwa teringat sepanjang masa. Geser fokus itu ke fokus ini, sekarang!”

“Begitu mudah hidup.”

“Pulanglah! Anda sehat!” Begawan meninggalkan ruang tamu ke kamar.

Mengubah Nasib

Bandara Depati Amir Batam, 11 Mei 2009

Heri kecil berasal dari keluarga miskin. Sejak kecil ia sudah dididik oleh orang tua untuk berjual kue di pulau Moro. Kakak dan orang tua menggemblengnya menjadi pekerja keras.

“Koko pernah memperbaiki televisi seorang petugas. Dia dihajar oleh petugas tersebut hingga babak belur. Kata petugas itu koko justru merusak televisi dan bukan memperbaiki.”

Kejadian tersebut membangkitkan jiwa-jiwa perjuangan (khalil Gibran menamakan jiwa-jiwa pemberontak). Diskriminasi ras sangat kentara. Kami dipandang rendah derajat oleh para petugas. Kami berada di pihak yang kalah (lemah). Maka saya bertekat sekolah hukum dan menjadi pengacara termasyur di negeri indonesia untuk menumpak ketidakadilan.

Oleh karena itu saya merantau ke pulau Tanjung Batu Kepulauan Riau. Saya tidak mampu langsung merantau di pulau Tanjung Pinang. Di Tanjung Batu saya bekerja membantu tante menjaga rumah, membantu tante banyak hal. Bersamaan dengan itu saya juga sekolah. Jadi beaya sekolah memakai uang hasil keringat membantu tante.

Selang beberapa lama saya menempuh jalur pendidikan, koko marah. Ia pernah mengobrak-abrik meja belajar. Saya masih ingat waktu itu dia berkata,” untuk apa kita sekolah? Keluarga kita bisa mandiri walaupun tanpa sekolah. Para petugas berpendidikan tetapi mereka justru memperlakukan kita tidak adil. Apakah kita mau menjadi seperti mereka?”

saya saat itu melihat dengan sedih sikap koko. Justru kejadian tersebut membakar jiwa. Saya harus membuktikan bahwa pendidikan adalah penting. Maka setamat SMA saya kuliah di Atma Jaya Yogyakarta.

Orang tua di Moro sangat miskin. 1 anak pengusaha es batu dan 1 anak petugas mampu mengkuliahkan anaknya keluar Moro. Sekalipun orangtua tidak membeayai, perjuangan saya meraih mimpi tetap bergelora. Saya mencari uang dengan berjual kue, menjaga sewa kaset, dan banyak terobosan lain.

Istri berasal dari keluarga kaya di solo jawa tengah. Bermula dari acara di lereng merapi Kaliurang, kami berkenalan dan teman-teman meresmikan bahwa kami sudah berpacaran. Istri sangat berhati kasih. Dia banyak memijami buku-buku kuliah. Bahkan beberapa tahun setelah kami pacaran, orang tua istri membantu membeayai kuliah saya.

Setamat kuliah saya menikahi pacar saya dari solo itu, yang sekarang menjadi isteri saya. Kami menetap di Batam. Kami membuka usaha di Batam. Beberapa usaha kami antara lain hotel, bank, dan lain-lain.

Saya beruntung mendapatkan istri yang baik. Dia lemah lembut. Dia banyak melakukan kegiatan di rumah. Di rumah dia membuat kue dan dekat dengan karyawan. Perkawinan kami dianugerahi 4 anak. 2 sudah menjadi dokter dan 2 masih SMA. kedua anak saya yang masih SMA juga mau menjadi dokter.

Perjuangan meraih mimpi sudah terwujud. Sekalipun saya berpendidikan, saya juga pekerja keras. Sekalipun saya mau menjadi pengacara, justru lulus di fakultas ekonomi dan menjadi pengusaha. Sekalipun saya terlahir dalam keluarga miskin, saya mampu mengubah situasi hidup saya.

Banyak penduduk Moro terinspirasi dengan kisah hidup saya bahwa pendidikan dan kerja keras adalah penting. Juga orang miskin mampu mengubah situasi ekonominya.

Seorang romo yang baru pulang dari Roma mendengar kisah bapak Heri berujar,”semua adalah rahmat Tuhan.”