Sepatu Ceng Po

Ranai, 25 Desember 2008

Pukul 18.00 wib menjelang misa malam natal pukul 1830 wib 24 Desember 2008 di gereja Ranai Natuna Cengpo membawa kantong plastik hitam. Kantong tersebut ditenteng dengan tangan kanannya. Ia meletakkan kantong tersebut di atas meja pastoran. “Apa itu?” Tanya ku.

“Ini sepatu sandal.”

“kau sudah memakai sepatu, mengapa kau membawa sepasang lagi?”

“Saya membawanya untuk diberikan kepada Fransiskus. Dia tidak mempunyai sepatu untuk natal tahun 2008”

17 menit kami bercakap-cakap dengan Ceng po, fransiskus datang ke pastoran. Ceng po menyerahkan sepatu tersebut kepada fransiskus. Mereka berdua duduk di lantai. Ujar fransiskus, “Sepatu ini tidak cukup untuk kaki saya.”

“Kau coba dulu lah! Cukup lah!”

Panorama di depan mata menyentak hati sanubari paling dalam. Fransiskus berasal dari keluarga miskin, sedangkan Ceng po berasal dari keluarga berkecukupan. Ceng po yang berusia 8 tahun mampu berbagi kepada fransiskus yang miskin. Sungguh Allah lahir di dalam diri seorang bocah kecil, Ceng po. Dia bermurah hati seperti Bapa yang bermurah hati. Dia memberikan harta miliknya kepada sesama, Bapa memberikan putera tunggal-Nya kepada semua manusia.

Kriteria Usaha Liong-liong

Tanjung pinang, 23 Desember 2008

Siang pukul 12.00 wib Liong-liong sekeluarga mengajak romo makan sop buntut kambing di depan Bank BCA Tanjung Pinang kepulauan Riau. Ayau istri Liong-liong dan Yenny memesan bubur ayam. Liong-liong memesan nasi ayam. Romo memesan sop buntut kambing & ¼ sepiring nasi putih. Romo memesang chinesse tea, Liong-liong memesan es tea.

Keluarga liong-liong berdomisili di pulau Tarema kepulauan Anambas. Pekerjaan sehari-hari adalah mengelola toko kelontong bersama dengan isterinya. Anak pertama sedang kuliah di Amerika, anak kedua sudah bekerja di prudential, sedangkan anak terakhir duduk di kelas II SLTA di pulau Tanjung Pinang.

Ketika Liong-liong datang ke pulau Tarempa 28 tahun silam, mereka naik kapal kayu. Perjalanan dari kota Tanjung pinang ke pulau Tarempa 4 hari 4 malam. Sekarang bila perjalanan ditempuk dengan kapal Very, maka waktu perjalanan kurang lebih 13 jam. Melihat situasi terpencil di belahan ujung dunia, yang terkesan teriosolasi tersebut menimbulkan kekaguman. “Mengapa bapak mau datang dan hidup di tempat terpencil di Tarempa kepulauan tujuh kepulauan Anambas?”

“Saya berasal dari Semarang, sedangkan isteri berasal dari kota Tanjung pinang kepulauan Riau. Persaingan dagang di kota Semarang atau di Tanjung pinang sudah sangat ketat. Bilamana kami tetap tinggal di kedua kota tersebut tentu kami kalah bersaing. Maka kami mencari tempat terpencil. Di sini persaingan dagang masih longgar. Kami lebih mudah mendapatkan uang di tempat ini daripada di dua kota besar tersebut.”

Pemikiran Paimin berbeda dengan pemikiran Liong-liong. Paimin yang berdomisili di Kuningan Yogyakarta Jawa tengah berkata,”Seumur hidup saya mau tinggal di jawa. Pulau Jawa adalah kota terpadat, kota pelajar, kota terhebat di dunia. Saya benci dengan pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi atau Irian Jaya, karena di sana masih dikelilingi hutan dan sepi.”

Ratusan ribu orang jawa mempunyai pemikiran serupa dengan Paimin. Sekalipun upah mereka adalah 1.000.000/bulan, sedangkan penghasilan di luar pulau Jawa adalah 10.000.000/bulan, mereka lebih memilih tinggal di Jawa. Kriteria pemilihan tempat tinggal Paimin berbeda dengan Liong-liong. Bagaimanakah criteria kita masing-masing?

Ketaatan Wanita Desa

Telkom, 20 Desember 2008

Seorang wanita desa berjumpa dengan malaikat. Mereka bercakap-cakap akrab. Inisiatif percakapan tumbuh dari malaikat. Dia berujar kepada wanita itu, “kau belum menikah?”

“belum lho.”

“Kau segeraka akan hamil.”

“Mana mungkin wanita belum menikah bias hamil?

“Berdasarkan pemikiranmu, maka sangat mustahil. Tetapi bagi Allah adalah mungkin adanya.”

“Orang tuaku belum menikahkan kami dengan tunanganku, Yosef. Biarpun demikian kami belum serumah dan hubungan kami belum terlalu jauh.”

“Roh kudus membuatmu hamil.”

“Mana mungkin?”

“Berilah nama anakmu, Emanuel.”

“Ah , kau bercanda ya?”

“Betul lho. Dia adalah nabi yang dinanti-nantikan oleh nenek moyang dari jaman ke jaman. Ia meneguhkan orang stress. Ia menyembuhkan orang sakit. Ia membangkitkan orang mati. Ia meredakan topan. Ia menggandakan roti. Ia jenius deh.”

Ya, aku malu ah. Jikamana aku hamil tetapi belum bersuami. Nanti saja deh, bilamana aku sudah menikah. Kau beriku anak jenius dan unggul seperti katamu.”

“He he … lha ini sudah kehendak di atas, bahwa kamu harus mengendung. Kalau besok kamu mengandung, maka tgl 25 Desember kamu melahirkan Dia.”

“Berat deh salib ini. Namun bila itu kehendak Allah, terjadilah kehendak-Mu menurut perkatan-Mu.”

“Nah, begitu dong. Kalau kau gak mau menerima kenyataan hidup ini, maka bagaimana jadinya? Saya percaya berkat ketaatanmu kepada kehendak Allah, kau mampu menyelamatkan trilyunan orang di dunia dan dirimu sendiri.”

“Sinmong toto deh.. sampaikan salamku kepada Bapa yang mengutusmu.”

“Dia bangga dengan kesediaanmu.”

Tumbal atau Salib?

Keuskupan, 15 Desember 2008

Paijo menikah dengan Painem 35 tahun lalu. Tuhan menganugerahi 2 anak. Anak pertama adalah lelaki. Ia bernama cong kek. Sedangkan anak kedua adalah seorang wanita. Ia bernama cing kek. Cong kek sehat secara jasmani, rohani, dan mental, sedangkan fisik Cing Kek mengalami kelainan. Kata Dirah tetangga Paijo,”Wakto Painem mengandung, dia mengejek orang lain. Ejekan itu berdampak kepada anak di dalam kandungan. Anak di dalam kandungan tersebut menyerupai orang yang diejeknya.”

Cong Kek menikah dengan Leng Gong di umur 25 tahun. Setahun setelah menikah Tuhan menganugerahi seorang anak lelaki yang diberi nama Leng po. Di ulang tahun pernikahan ke 5 Tuhan menganugerahi seorang anak wanita yang diberi nama Ling Po. Leng Po sehat jasmani, rohani, dan mental sedangkan Ling Po mengalami kelainan fisik. Mulut Ling Po sumbing. Leng Gong menangis melihat kondisi anaknya. Dia berkata,”Apa dosaku sehingga anakku lahir cacat? Aku tidak bisa menerima kenyataan ini.”

Menyikapi hal tersebut seorang imam menasehati Leng Gong,”Penderitaan tidak selalu diakibatkan oleh dosa, tetapi dosa bisa mengakibatkan penderitaan. Yesus juga menderita walaupun Dia adalah Allah. Biarpun demikian Yesus memanggul salib-Nya sampai mati di Golgota. Oleh karena itu kita belajar memikul salib. Di balik salib tersimpan pengharapan, yakni kebangkitan. Di balik kelahiran bayi cacat, kita bisa melihat kemuliaan Allah.”

Leng Po menikah dengan Hok Li di umur 22 tahun. Hasil pernikahan mereka yakni Eng Ki dan Eng Ko. Jenis kelamin Eng Ki adalah lelaki sedangkan jenis kelamin Eng Ko adalah wanita. Eng Ki sehat jasmani, rohani dan jiwa sedangkan ketika terlahir ke dunia fisik Eng Ko cacat. Hok Li menangis melihat begitu buruk rupa anak kesayangannya. Dia berkata,”Apa dosaku sehingga anakku cacat? Aku tidak bisa menerima.”

Song Kek, tetangga Leng Po meneguhkan Hok Li. Ia berkata,” cacat tidak berhubungan dengan dosa. Penderitaan tidak selalu karena dosa. Kita belajar menerima situasi apapun. Santo Paulus berkata, kita hendaknya mengucap syukur dalam segala hal.”

Bisakah kita memposisikan diri sebagai Painem, Leng Gong, dan Hok Li? Apakah kita juga bisa mempunyai sikap seperi romo dan Song kek? Betulkah bahwa kelahiran anak-anak cacat tersebut merupakan salib atau tumbal? Bagaimanakah sekiranya anak wanita Eng Ki di kemudian hari juga cacat? Bagaimanakah sekiranya cucu wanita Eng Ki juga cacat? Bagaimana kita menyikapi kenyataan ini? Masihkah relevankan nasihat romo dan Song kek?

Guruku Mencacatku!

Keuskupan , 12 Desember 2008

Wibowo duduk di kelas V SD di sekolah suasta Pangkalpinang Bangka. Pukul 2020 wib, tanggal 12 desember 2008 dia berkata,”nilai ulangan bahasa mandarin adalah 10. kata guru saya, bagaimana mungkin Prabowo mendapat nilai 10? Tidak mungkin dia mendapat nilai 10. Mungkin dia mencontek.”

Siangko menasehati,”praduga guru harus dibuktikan. Guru jangan asal menuduh murid. Hal tersebut bisa melemahkan semangat murid.”

Yesus dipuji banyak orang, Dia tetap rendah hati, berkarya dan mencintai banyak orang. Atau Yesus diolok-olok, Dia juga tidak menjadi rendah diri dan hancur hidup-Nya.”

Hidup bersama dengan orang banyak, jug berhadapan dengan persepsi bermacam-macam. Sikap orang atas kita juga bermacam-macam. Pujian orang atas kita atau makian juga pasti mewarnai hidup kita. Apakah hidup kita ditentukan rasa senang dan tidak senang orang lain terhadap kita? Semoga kita bersikap seperti Yesus bersikap.

Mata Sipit

Keuskupan, 12 Desember 2008

coba saja kau berada di dalam ruangan gelap sekali, tiba tiba ruangan itu nyala terang sekali. kepala kita bisa puyeng tapi ketika kau tutup 1 mata, 1 mata terbuka. maka kau akan cepat sekali menyesuaikan diri. begitu lampu menyala, langsung mata yang tertutup tadi baru dibuka, dan mata yang dibuka tadi ditutup.

Mas Thomas berujar, “Thomas Rachman: ada film…orang buta kemudian dioperasi matanya…tapi dia bingung…not blind but can not see…” Mata mempunyai fungsi sangat penting di dalam kehidupan seseorang. Mata merupakan modal untuk menangkap kenyataan di luar dirinya. Kenyataan yang ditangkap tersebut menjadi gambaran di dalam dirinya. Bilamana sejak bayi dia buta, maka dia tidak mempunyai visual internal, sehingga ketika dia menjalani operasi, kedua matanya belum berfungsi dengan sempurna saat dalam waktu singkat.

Frater Pramodo berkata, “Seorang lelaki menjalani operasi mata. Pendonor mata adalah seorang wanita. Satu sisi mata lelaki, sisi lain mata wanita. Menurut pengakuan dia lebih lembut daripada sebelumnya.” Apakah cerita itu fakta atau gambaran frater pramodo, namun cerita tersebut mempunyai pesan mendalam. Di dalam diri lelaki ada kewanitaan. Di dalam diri wanita ada kelaki-lakian. Bilamana seseorang memadukan kewanitaan dan kelaki-lakian dalam menyikapi hidup, maka hidupnya mungkin lebih kaya.

Kalau begitu apakah mata sipit berbeda dengan mata lebar dalam memandang realitas kehidupan? Anastasia menjawab,” dokter berkata, sudut pandang mata sipit dan mata lebar berbeda. Mata sylindris lebih cenderung yang mata sipit.” Menurut Anastasia mata sipit berbeda dengan mata lebar.

Pater Titus berkopetensi memilih merpati. Mata bisa mencerminkan kwalitas merpati. Mata merpati berkwalitas tinggi mempunyai ciri-ciri antara lain yakni mata sipit, menjorok ke dalam dan di bagian ujung mata lancip adalah mata berkwalitas tinggi. Merpati seperti ini mampu memandang pasangan hidup (sasaran) dari ribuan mil. Dia berani menukik dan menjatuhkan diri dari ribuan mil dari atas kepala kita.

Menurut ramalan,”orang yang mampu menguasai dunia adalah orang yang bermata sipit” Bagaimanakah tanggapan kita atas pendapat tersebut? Mari kita simak mata orang-orang ngetop. Berdasarkan pemantauan pater Titus, rata-rata mata orang-orang terkaya di Indonesia adalah bermata sipit, menjorok kedalam dan lancip di bagian ujung. Demikian juga Nabi Lao tje, nabi Kong Hu Chu, Sidharta Gautama, Yesus, Paus Beneditkus XVI, Paus Paulus II. Boleh jadi bahwa 10 orang terkaya di dunia juga mempunyai mata sipit, menjorok kedalam.

Pebisnis handal di indonesia bermata sipit. Orang terkaya di Indonesia bermata sipit. Nabi Kong Hucu bermata sipit. Nabi Laot Tje bermata sipit. Sidarta Gautama bermata sipit. Jadi banyak orang bermata sipit adalah orang-orang berkwalitas.

Berdasarkan data di atas, mata sangat penting di dalam kehidupan seseorang. Modalitas merupakan kunci penting dalam pembentukan persepsi. Apakah kita mampu menjadi orang-orang handal dengan memodel persepsi orang-orang hebat di dunia?

Mengubah Lingkaran Dalam

Keuskupan11 Desember 2008

Pribadi itu ada diri dan orang lain. Diri mempengaruhi orang lain. Kita menjadi seperti sekarang karena orang lain. Berbicara tentang pribadi bila yang membentuk persepsi (pola pikir), sering terjadi benturan benturan. Orang pinter bilang interpersonal communication. Dalam komunikasi interpersonal melibatkan alam sadar dan alam bawah sadar. Tiap manusia memiliki alam sadar dan alam bawah sadar. Pada umumnya hukumnya adalah alam sadar mengikuti alam bawah sadar. Perilaku mengikuti alam pikiran bawah sadar.

Namun demikian sering terjadi konflik internal. Dimana terjadi inkonsistensi antara alam bawah sadar dengan alam sadar, antara perilaku dengan alam pikiran bawah sadar. Ketika terjadi ketidakkonsistenan, maka terjadi kekacauan di dunia kecil (pribadi). Ketika pribadi terjadi kekacauan, identik perilaku juga kacau. Kalaulah pribadi per pribadi kacau, maka masyarakat bisa kacau. Yang internal berubah, yang eksternal berubah. Poros tengah berubah, lingkaran luar berubah. 1 keyakinan yang tidak mendukung berubah, perilaku bisa berubah.

Ketika pribadi bertemu dengan pribadi. Pribadi pribadi berkumpul dan bertempat di suatu wilayah membentuk masyarakat / lingkungan. Kalau lingkungan tadi terdiri dari orang orang yang tidak mempunyai konsistensi yang tinggi, maka bisa dibayangkan. Lingkungan seringkali membentuk diri kita. Ketika pribadi bersentuhan dengan lingkungan / pribadi lain maka di situ terbentuk pengalaman, keyakinan, nilai, identity, dll. Proses tersebut membentuk map / peta.

Dunia besar kita tidak kurang dan tidak lebih juga seperti itu. negara indonesia juga kurang lebih seperti itu. Kita bisa membaca situasi masyarakat dari map. Walau map tidak sama dengan reality. Ketika orang-orang yang menduduki posisi penting tersebut terjadi di dalam pribadi terjadi inskonsistensi, minimal dia tidak memiliki kejujuran anda bisa membayangkan dampaknya untuk masyarakat luas. Situasi chaos merupakan cermin dari dunia yang choas.

Ini mohon maaf, ini hanya sebuah gagasan / ide. Anggap saja saya mempunyai negara bernama Antah berantah . Di negeri Antah berantah memiliki presiden, wakil, para mentri, DPR dan MPR. Misalkan 1 menteri saja membuat 1 peraturan bahwa semua wanita harus mengenakan celana rok panjang di bawah lutut. Padahal di negara Antah berantah banyak turis dari luar negeri yang gemar bermain di pantai dengan mengenakan busana hampir tidak ada benangnya. Bagaimanakah dampak aturan tersebut terhadap situasi di negeri Antah berantah? Misalkan lagi, seorang pengusaha besar di Antah berantah mau mengegolkan undang-undang tentang ketenagakerjaan dengan membayar 5 milyar kepada para pejabat agar anak-anak di bawah umur 16 tahun boleh bekerja siang dan malam. Bagaimanakah dampaknya bilamana pejabat tersebut mengegolkan kepentingan kelompok tertentu? Anda bisa membayangkan akibatnya bukan?

Dunia luar merupakan cermin dari dunia dalam. Dunia dalam meliputi keyakinan, nilai, kultur, pengalaman, identitiy, dan lain-lain. Dunia dalam dan dunia dalam bertautan satu dengan yang lain. Dunia dalam mempengaruhi dunia luar, dunia luar mempengaruhi bagian dalam. Semoga kita mulai belajar mengubah dunia di dalam diri kita sehingga kita bisa menyumbang membangun bangsa dan negara Indonesia.

Tetesan Air Mata

Wisma keuskupan, 7 Desember 2008

Seorang imam bangun pukul 03.30 wib. Dia segera membasuh muka, tangan dan kaki di kamar mandi. Dia menghalau kantuk dengan air putih. Kelenturan air bak menyesuaikan bentuk muka dan cekungan kedua telapak tangan, yang mencedok air. Sentuhan air ke tubuh menyegarkan jiwa dan tubuh. Muka dan tangan dilap dengan tissu putih. Butir-butir debu menempel hitam di tissu putih.

Langit masih menurunkan air berkat ke bumi. Motor Crypton tua imam itu meluncur di jejalanan basah. Ribuan tetes air berkat mengguyur tubuh indah imam. “Allah mengatur alam semesta. Matahari lenyap, gelap merayap. Air tercurah, awan hitam lenyap. Air tercurah panas terhalau. Matahari bersinar, gelap berarak pergi. Terang dan gelap, dingin dan panas, hujan dan kemarau siklus alam semesta.”

Ribuan orang berdiri di atas kaki bumi di samping gereja St Yosef Katedral Jalan Gereja N0 2 Pangkalpinang. Patung Wanita suci dipikul oleh 4 lelaki kekar untuk diarah menyusuri jalanan kota. Ribuan lilin putih coba dihidupkan untuk membelah kegelapan. Air dari langit menyentuh ujung-ujung api lilin putih. Patung suci itu diarah dalam gelap dan sunyi di tengah-tengah kerumunan ribuan orang. “Air merupakan rahmat Tuhan. Dia menyucikan jalanan kota. Dia membasuh kota Pangkalpinang.”, ujar petinggi gereja pangkalpinang.

Syukur atas rahmat Tuhan meluncur dari ribuan mulut-mulut. Derap ribuan kaki merangsak memenuhi jalanan lengang. Mulut ribuan orang komat-kami melantunkan sepenggal doa. Aura suci para peziarah membumbung memancar bersinar di kota Pangkalpinang. Bersatu membentuk bunga mata hari untaian doa. Dia melayang ke atas memayungi ribuan orang. Hujan seakan tidak hujan. Sekalipun rintik hujan dari langit meluncur ke bumi, ratusan orang tak tersentuh air.

Air tercurah sejak pukul 02.00 wib. Langit mencuci kota pangkalpinang 6 jam. 4 Jam air membasuh ribuan peziarah. Walaupun demikian awan putih menutupi mentari di ufuk timur. Imam itu berujar di tengah-tengah ribuan para peziarah,”kapankah mata hari itu bersinar menghangatkan ribuan para peziarah?”