Memutus Mata Rantai

Keuskupan, 29 Januari 2009

Ceni dan Anton sekarang hidup bersama. Keempat anak Anton dan ketiga anak Ceni juga sudah menikah. Yuyu menikah dengan Aliong, Acen menikah dengan Sobari. Pernikahan Yuyu dengan Aliong dikaruniai 3 anak. Selama mereka menikah, Yuyu masih menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Juga selama Acen menikah, dia menjalin hubungan dengan mantan pacarnya. Demikian juga kedua anaknya mengalami hal serupa.

Sejarah Anton terulang kembali di dalam diri keempat anaknya? Apakah hal ini kebetulan? Apakah ini wajar demi dan atas nama cinta?

Bila kita mencermati tulisan sebelumnya ada kisah serupa. Si A menikah dengan si B. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak yakni si C dan si D. Si D lahir cacat (kurang normal), si C menikah dengan si E. Pernikahan C dengan E melahirkan anak si F dan si G. Si G juga kurang normal, sedangkan si F menikah dengan si I. Mencermati silsilah tersebut sejarah terulang. Apakah hal ini kebetulan? Apakah ini dosa mereka?

Apakah anda mempunyai jawaban untuk memutus mata rantai peristiwa di atas? Apakah kita cukup untuk menghentikan agar dia tidak menikah sehingga mata rantai terputus? Apakah bisa dengan doa? Bukankah keluarga si A dan B merupakan aktifis dan rajin bekerja? Bukankah keluarga Anton merupakan aktifis dan rajin berdoa?

Kembali

Memasuki malam, memasuki detik detik akhir hidup kita.
Seluruh haru biru dikembalikan kepada yang memiliki hidup, Allah.
Kita kembali pada kosong: tak membawa apapun,selain kain yang menutup aurat.
Kita datang tak membawa apapun, kita pulang dengan tangan kosong.
Engkau memberi, Engkau yang mengambil.
Selamat memasuki kematian dan menghadap Tuhan.

Optimis di tahun 09

wisma keuskupan menjelang IMLEK, 25 Januari 2009

 

Pukul 0632wib Mgr. Hilarius Moa Nurak svd mengirim sms ke hp pst titus budiyanto. Berikut sms beliau,”saudari saudara yang tercinta : 1) flores cina putrinya ayu – amoi penjual obat tianshi – semoga bahagia di tahun kerbau – salamku sungguh dari hati : gong xi fa cai 2) siapa rajin bertanam padi – lepaslah hidup dari hutang di tahun kerbau tanamlah budi – menuai rahmat di tahun mendatang 3) baju imlek bahanya – bila dipakai takkan koyak – elok laku karna imannya – bila dihayati takkan tercampak. +hila M. Nurak svd pk pinang”

Awal sapaan SMS beliau adalah Flores. Ini menyiratkan bahwa di hati sanubari terdalam apapun yang berkaitan dengan Flores sudah mengakar seperti budaya, agama, nilai-nilai, keyakinan, pengalaman. Bilamana orang belum mengenal si pemilik SMS, boleh jadi bahwa melalui SMS dengan awalan Flores merujuk si pembuat SMS, yakni berasal dari Flores dan dibesarkan dalam budaya Flroes.

Kata kedua adalah Cina. Ini merujuk pada suku Cina. Struktur kedua kata ini bisa menunjukkan bahwa ada sangkut paut si penulis (bapa Uskup yang adalah Flores) dengan orang Cina. Hubungan langsung atau tidak langsung pastilah ada. Sebagai pemimpin tertinggi keuskupan Pangkalpinang pasti berhubungan dengan orang-orang Cina, karena sebagian umat katolik keuskupan Pangkalpinang adalah suku Cina. Beliau berkarya mewartakan Kerajaan Allah di antaranya juga orang-orang Cina. Bahkan perintis pertama agama katolik dan imam projo pertama di Indonesia di keuskupan Pangkalpinang adalah orang Cina.

Bila terjadi perpaduan kedua suku yakni Flores dan cina melahirkan keindahan. Beliau melukiskan Flores Cina melahirkan Amoi cantik. Sapaan petinggi gereja pangkalpinang mendahulukan amoi daripada koko (untuk sebutan lelaki). Padahal dalam pertemuan-pertemuan resmi, di mimbar kotbah, di tempat-tempat training, di tulisan-tulisan banyak orang menyebut terlebih dahulu saudara / bapak / koko daripada amoi / saudari / ibu.

Menempatkan posisi wanita di awal kalimat merupakan perwujudan pemikiran akan emansipasi dan martabat luhur wanita. Di mata bapa Uskup, wanita adalah luhur dan memegang peran penting dalam proses orang miskin membantu orang miskin. Beliau sangat konsern terhadap pengembangan CU sebagai perwujudan gereja membantu mengatasi kemiskinan di Indonesia. Mgr Hilarius Moa Nurak SVD dalam rapat sekpas di Jalan Batu kadera XXI N0 545 A Pangkalpinang pernah berkata, ibu-ibu meminjam uang di CU. Modal kecil mereka pakai untuk usaha. Mereka justru setia mengangsur hutangnya dari keuntungan hasil usaha. Justru orang-orang kecil seperti ini patut ditolong.

26 Januari 2009 sebagian umat Cina merayakan IMLEK. Selaku pemimpin tertinggi beliau menyampaikan harapannya kepada seluruh umat agar seluruh umat bahagia. Kata bahagia mempunyai muatan sangat mendalam. Sebagai seorang uskup yang mumpuni pemahaman kebahagiaan tentu menyentuh segala aspek, yakni pikiran, perasaan, tubuh, dan hati. Mungkin kebahagiaan tersebut bisa menyentuh aspek lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Kebahagiaan orang-orang Tionghoa menjadi lebih mudah terwujud bilamana setiap orang mau rajin bekerja. “siapa rajin bertanam padi – lepaslah hidup dari hutang.” Rajin bertanam padi merupakan pekerjaan petani. Beliau juga konsern dengan para petani sehingga petani mewarnai pantunnnya. Kemelimpahan duniawi segera mengikuti orang yang gigih bekerja. Aspek lahiriah jelas tersirat dalam pantun.

Bila kita mencermati kalimat selanjutnya, kita bisa menangkap aspek pemikiran di dalamnya. “di tahun kerbau tanamlah budi – menuai rahmat di tahun mendatang.” Kalimat ini masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya. Bila petani menabur bibit baik, maka akan memetik buah baik dan sebaliknya. Hukum tabur dan tuai berlaku di sini. Di tahun 2009 beliau mengharapkan kepada seluruh umat tionghoa agar menanamkan pikiran (budi) yang baik. Budi baik pasti membuahkan perasaan dan perilaku yang baik.

Puncak pantunnya adalah menyangkut iman (berkaitan dengan hati). “baju imlek bahanya – bila dipakai takkan koyak – elok laku karna imannya – bila dihayati takkan tercampak.” Bekerja keras penting. Mengolah budi tidak kalah penting. Iman adalah mutlak mendasari seluruh hidup. Bila iman mendasari hidup di tahun 2009 maka kita takkan tercampak (bahagia).

Pantung Mgr Hilarius Moa Nurak sangat optimis memasuki tahun 2009 yang penuh pergolakan. Kita mencoba melihat pandangan seorang pengusaha muda. Berikut ini adalah sms beliau jam 13:12:47,”Tahun 2009 adalah tahun keberuntungan bagi orang yang mampu ikuti kemajuan zaman. Dan optimis besok lebih dari pada hari ini. Maka kita renungkan masa lalu dan kita munculkan kekuatan dasar jiwa untuk bisa MENERINA dan BERUBAH CARA HIDUP YANG BARU KEARAH YANG LEBIH LUAS, SERTA BERWAWASAN LEBIH JAUH DAN BERKWALITAS yang BAIK. Sengenap perasaan jiwa yang paling dalam saya bersama keluarga mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2560. GONG XI FAT CHAI WAN SE JU I NIEN – NIEN CIN PU. GBU ht n family”

Tahun baru 2009 merupakan tahun keberuntungan bagi orang yang mengikuti perkembangan. Di tahun 2009 merupakan tahun keberuntungan bagi orang yang mengikuti perkembangan : siapa rajin bertanam padi – lepaslah hidup dari hutang. Sebaliknya orang yang tidak mengikuti perkembangan : orang yang malas mengikuti perkembangan dan bekerja, maka tahun baru merupakan tahun sial dan dia dililit hutang. Perjuangan manusia mampu merubah situasi buruk sebelumnya. Kunci perubahan ada pada orang yang bersangkutan, bukan pada waktu-waktu yang dijalani dan realitas di luar dirinya.

Bila kita mencermati SMS Hartono, juga tersirat sesuatu yang lebih tinggi. Dia melukiskan, “maka kita renungkan masa lalu dan kita munculkan kekuatan dasar jiwa.” Dia melukiskan kekuatan dasar jiwa. Ada kekuatan yang mendasari jiwa. Dia penggerak sebuah penerimaan dan perubahan ke habitus baru.

Pada hari yang sama 25 Januari 2009, pastor titus budiyanto mengucapkan selamat kepada 500 rekan Tionghoa yang merayakan IMLEK melalui sms. “Segala hal di dunia akan musna. Kita belajar lepas bebas terhadap kesementaraan. Sikap lepas bebas menghantar orang pada kebahagiaan dan keselamatan lahir dan batin, dunia dan akhirat. GONG XI FA CHAI.”
Sikap lepas atas hal yang senentara memicu perjuangan hidup kita.

10 menit menjelang tulisan ini mau dimuat di blog, ibu Grace mengucapkan selamat IMLEK melalui SMS. Selain nilai-nilai di atas bagus juga bilamana pesan ini menjadi perjuangan kita bersama. “Thank you Rm Titus. Eight Gold fish to wish you: * Proseperity. * Wealth. * Good Health. * Peace. * Luck. * Longevity. * Long lasting love. * Happiness. Have a nice day … “

Mari kita berjuang mewujudkan nilai-nilai luhur di atas dengan bantuan Roh Allah.

Salam sukses memasuki tahun 2009. Salam dan doaku.

 

Allah Mengatasi Segala

keuskupan, 23 Januari 2009

Semua maklhuk hidup di atas muka bumi adalah sama-sama numpang. Segala makhluk hidup bersifat sementara. Semua akan mengalami kematian. Bila manusia mati, maka dia hanya membawa kain dan kayu. Kaya atau miskin akan berproses menjadi tanah.

Tidak ada alasan menyombongkan satu terhadap yang lain. Tidak perlu kita sirik terhadap orang lain. Biarlah orang kaya menjadi kaya dan orang miskin menjadi miskin. Siapa mau terlahir menjadi miskin? Siapa mau terlahir buruk rupa? Siapa mau kita terlahir sebagai orang Indonesia?

Allah mengatur semua kehidupan kita. Allah adalah satu. Dia adalah allah bagi semua. Umat muslim menyebut Allah. Umat katolik dan kristen menyebut Tuhan. Aliran kepercayaan menyebut sangkan paraning dumadi. Aliran Tao menyebut Sang Jalan. Masih banyak sebutan Allah, namun banyak sebutan merujuk pada hakekat yang satu dan sama.

Yang paling tinggi adalah Allah, bukan kita. Yang paling kaya adalah Allah, bukan kita. Yang paling suci adalah Allah, bukan manusia. Yang paling pinter adalah Allah, bukan manusia. Yang paling tahu adalah Allah, bukan manusia. Yang paling ganteng adalah Allah, bukan manusia. Allah paling sempurna, manusia diberi kesempatan mengelola milik Allah sesuai dengan talenta dari Allah. Maka tidak ada alasan menyombongkan diri atau sirik terhadap orang lain.

Rendah Diri

Wisma keuskupan, 22 Januari 2009

Kadang-kadang kita merasa rendah diri. Ketika kita merasa rendah diri, maka kita berjuang untuk menutupi perasaan rendah diri. Wajah bopeng ditambal di salon-salon kecantikan. Rambut pirang dicat hitam, rambut hitam dicat pirang, rambut lurus dikeriting, rambut keriting dibuat lurus, rambut lurus dikeriting, ujung jari putih dikotek merah, telinga indah diganduli emas, leher mulus digelayuti emas seperti sapi, tubuh cokelat dilumuri dengan susu murni, ketek bau disemprot pewangi, tubuh gembrot didandani rok jutaan, pergelangan tangan dekil dikalungi jam emas berlian, kaki berkerak dipakaii sepatu dari Itali, Otak jongkok mengendari sedan, si penganggur memegang hand phone Rp. 8.000.000.

Perilaku-perilaku di atas hanya sekelumit contoh. Ribuan bentuk perilaku ganjil untuk menutupi rendah diri masih bisa kita jumpai dalam kehidupan kita. Sangat mungkin bahwa perilaku-perilaku tersebut mau menonjolkan kehebatan-kehebatan kita agar orang mengakui kehebatan kita. Kita berharap dengan tampilan yang wah, orang akan berdecak kagum terhadap kita. Namun apakah perilaku di atas sungguh mampu mengatasi rasa rendah diri, yang terkadang muncul? Ini patut menjadi bahan permenungan masing-masing dari kita yang pernah rendah diri.

Minimal hasil pencerahan Titus budiyanto, solusi untuk mengatasi rasa rendah diri lebih tepat mengacu pada sabda Tuhan. Berdasarkan kitab kejadian bab 1 manusia dicipta secitra / segambar dengan Allah. Allah memberi kepercayaan kepada manusia untuk mengolahnya. Berdasarkan teks ini maka jelaslah bahwa manusia adalah agung dari segala ciptaan. Kodrat kita (in se) adalah sempurna, tetapi persepsi kita dalam memandang diri memicu perasaan rendah diri.

Masih menurut kitab suci, kitab mazmur bab 8 juga disinggung oleh penulis. Apakah manusia sehingga Kau perhatikan. Siapakah manusia sehingga Engkau pelihara? Menurut teks ini jelaslah bahwa manusia sungguh agung di mata Tuhan. Tuhan sangat mencintai manusia dengan cara memelihara dan menjaganya siang dan malam.

Dalam teks-teks perjanjian baru, Yesus atau para rasul menegaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Sebagai anak kita mempunyai peluang menjadi ahli waris kerajaan Allah. Yesus dan para murid pun dengan tegas menggarisbawahi bahwa kita adalah anak Allah. Ini sudah sangat gamblang bahwa manusia itu sendiri tinggi dan luhur.

Masih banyak teks yang berbicara tentang keluhuran dan martabat manusia. Kiranya point di atas membawa kepada kita kepada sikap yang berkenan di hati Allah dalam memandang diri dan orang lain. Bila kita mempunyai persepsi yang luhur terhadap diri kita, maka kita juga akan menghargai sesama kita yang juga gambar Allah.

Bangun Tidur

Keuskupan , 20 Januari 2009

tidur dan bangun adalah peristiwa biasa. kita mengalami setiap hari. Menjadi luarbiasa ketika orang tidak bisa tidur (sulit tidur) dan ketika dia tidur tidak bisa bangun dalam jangka panjang. Berarti ada ketidak wajaran. Seringkali ketidakwajaran ini terjadi karena beban batin yang disangga oleh seseorang atau sakit fisik seperti koma karena penyakit tertentu.

Tulisan ini tidak mengulas tentang Insomnia dan orang-orang yang tidur panjang. Namun mencoba memaknai peristiwa lumrah, tidur dan bangun. Bila kita memaknai tidur identik dengan kematian maka kesadaran kita akan terdongkrak. Kesadaran diri dan kesadaran akan kasih Allah. Tidur di gelombang delta (tidur sempurna) mengandaikan kepasrahan total kepada Allah. Orang memasrahkan seluruh diri, yang baik dan yang buruk, yang hitam dan yang putih, yang kurang dan yang lebih, yang jatuh dan yang bangun. Ketika titik kepasrahan diri ini memuncak, berarti seluruh diri kita sebenarnya milik Allah. Kita mengembalikan diri kita dari Allah kepada Allah. Ketika kita berada di dalam genggaman Allah ,maka Allah memurnikan , menyucikan, mengembalikan ke awal kesempurnaan.

Maka ketika manusia sudah dibangkitkan (bangun) maka dia menjadi hidup baru. Bila kita menyadari kebaruan hidup setiap kita bangun tidur, maka hidup kita diliputi dengan kebahagiaan. Menjadi lebih bahagia lagi ketika di awal hidup baru kita sudah merancang hari-hari hidup kita demi kemuliaan Tuhan dan menolong sesama yang menderita dengan bimbingan Roh Allah dan pendasaran Sabda Allah. Kita memandang ke depan ke arah Visi Yesus dan visi luhur kita sebagai manusia, yang bersumber dari Allah.

Kita sudah mati dari dosa berkat kemurahan Tuhan, maka kita melangkah penuh syukur untuk membalas budi baik Allah. Semoga kita mampu menempati titik kesadaran ini dan kita semua menjadi bahagia.

Sepenggal Kata Positif

Wisma keuskupan, 16 Januari 2009

11 November 2008 seorang sahabat berkata,”semoga pastor semakin mendapat rejeki melimpah!”

Memang kalimat itu tidak diucapkan ketika ada doa bersama di kelompok, di Misa, atau doa pribadi. Dia mengucapkan itu ketika kami sedang bercakap-cakap melalui telepon. Biarpun demikian kalimat tersebut langsung menancap menjadi keyakinan. Keyakinan rejeki selalu melimpah mempengaruhi persepsi, perasaan, kecerahan fisik dan perilaku sehari-hari. Tidak berarti bahwa aktifitas menjadi gila kerja untuk mendapatkan rejeki. Namun kegiatan berjalan lancar seperti biasa. Yang berubah hanya struktur keyakinan.

Betapa dahsyatnya sebuah kata positif. Peristiwa yang dialami sungguh menunjukkan pembuktian sebuah kalimat positif. Bukti-bukti otentik yang masih bisa direkam adalah rejeki dalam aneka bentuk datang seperti air bah dari berbagai penjuru dunia. Acong memberi cocoa dari Australia. Paijo memberi kaos dari Singapura. Ali memberi kaos dari Hongkong. Piter memberi medali dari Itali. Encong memberi kaos dari Thailand. Lempong memberi baju dari spanyol. Burhanudin memberi wine dari kanada. Elisabet memberi jam tangan dari Bandung. Seorang teman dari jakarta menyediakan tiket dari Bangka ke Natuna untuk pelayanan Natal dan tahun Baru. Sihotang memberi angpao menjelang imlek 26 Januari 2009. Panjol mengantar duren kesukaan dari Jebus. Aneka bentuk rejeki mengalir seperti bah.

Pengalaman-pengalaman di atas semakin memperkokoh kalimat positif di atas. Ibarat data-data di atas merupakan sebuah kaki yang mendukung bagian atas dari sebuah meja. Maka kalimat positif di atas menjadi sebuah keyakinan. Nah persoalannya adalah sebuah kalimat positif dan menjadi keyakinan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, maka sangat mungkin iman kedahsyatannya melebihi sebuah kata positif di atas. Mampukah kita memiliki iman sebesar biji sesawi?

Pesan Begawan Hilarius Moa Nurak SVD

Keuskupan , 9 Januari 2009

 

Di hadapan para pastor dan para pegawai di komisi Mgr Hilarius Moa Nurak SVD menyampaikan bahwa program-program komisi hendaknya diketahui dan disetujui oleh Mgr Hilarius. Karena Uskup penanggungjawab seluruh komisi di keuskupan. Bilamana terdapat tawaran dari KWI, maka komisi hendaknya selektif, yakni memilih program yang sesuai dengan prioritas keusukupan.

 

Bapak Andi produktif, amat giat dalam melaksanakan program. Dia mempunyai prioritas dalam melaksanakan program. Kami mengucapkan berlimpah terimakasih. Berkaitan dengan istilah kita hendaknya mempertahankan istilah yang sudah hidup di umat. Misalkan percakapan Tuhan besertamu mau diganti Tuhan bersamamu.

 

Pada saat kita menerima tubuh kristus , kita menerima orang menderita. Ekaristi adalah puncak. Puncak tidak lepas dari kaki bukit. Puncak = Yesus tidak lepas dari kaki bukit = masyarakat. Ekaristi korelasi dengan orang menderita di masyarakat. Kehadiran kita bersama mereka mengangkat mereka keluar dari penderitaan. Ekaristi dengan orang miskin dalam arti pemberdayaan kemiskinan. Pemberdayaan orang miskin bisa melalui berbagai macam cara yakni CU, PSE, dll. Melalui CU kita bisa membantu mengembangkan orang miskin agar mereka berkembang untuk mencukupi dirinya sendiri. CU dikembangkan oleh komisi Pengembangan Sosial Ekonomi.

 

Pendidikan manusia bertumbuh semenjak di dalam kandungan ibu. Tidak mengherankan bilamana terdapat pendapat bahwa keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan faktor penentu dalam pendidikan anak. Demikian juga pendidikan iman. Pendidikan iman anak sudah dimulai sejak anak di dalam kandungan ibu dan kontak mereka dengan sesama di masyarakat dan di sekolah. Maka pihak sekolah hendaknya memperhatikan dengaan seksama pendidikan iman anak di sekolah melalui pelajaran agama katolik atau retret. Melalui ilmu pengetahuan agama, anak diharapkan mampu mempertanggungjawabkan imannya kepada orang lain. Bahkan mereka mampu merasul di tengah-tengah teman-temannya di sekolah dan di masyarakat. Patut disayangkan bilamana anak tidak mampu menjelaskan iman yang dianutnya.  

 

Komisi seminari keuskupan pangkalpinang hendaknya lebih menekankan doa panggilan dan pengudusan para imam daripada menggalang dana. Berbagai macam cara untuk mewujudkan hal tersebut. Misalkan di paroki kerahiman ilahi Batam setiap hari jumaat ada adorasi, kerahiman ilahi dan doa untuk para imam. Stasi st hilarius Jebus Bangka setiap sabtu pertama umat berdoa di depan sakramen maha kudus untuk panggilan imam dan kekudusan para imam.

 

Kita di keuskupan arah depan keuskupan pemberdayaan umat partisipasi umat melalui Komunitas Basis Gerejani. Pengembangan komunitas basis selama ini memakai metode ASIPA. Namun demikian kita hendaknya juga mengembangkan KBG dalam aspek ekonomi. Banyak cara untuk pengembangan aspek ekonomi seperti bank UTARI, cu, dan lain-lain. Namun saya percaya bahwa CU sangat efektif membantu umat miskin membantu umat miskin untuk mengatasi kemiskinannya. Akhirnya umat mampu memuseumkan kemiskinan dan menciptakan perdamaian. Maka dari itu Komisi PSE hendaknya mengkoordinir CU yang ada, memotivir umat mendirikan CU, dan mengaminasi umat. Diharapkan umat menyadari bahwa mereka mempunyai potensi untuk mengatasi persoalan kemiskinan mereka. Bilamana hal ini dibuat, maka pengalaman gereja purba dialami kembali oleh umat di keuskupan Pangkalpinang. Melalui sarana ini umat mampu meluber keluar untuk menggarami dan menerangi dunia.

 

 

 

 

 

Pelayanan Sakramen Tobat

Telkom, 20 Deseber 2008

Menjelang hari Natal, setiap pagi hingga malam begawan Titus budiyanto melayani sakramen pertobatan dan sakramen ekaristi. Ratusan orang berbeban berat oleh karena dosa-dosa mereka mendapat keringanan dengan pengampunan dosa. Langkah hidup menjadi lebih ringan bilamana mereka mampu keluar dari kegelapan dan berjalan di jalan terang. Sang terang pernah berjanji menyertai kita sepanjang masa. Penyertaan Allah dalam perjalanan hidup memampukan kita menghadapi tantangan-tantangan baru untuk menghadapi segala kesulitan dan tantangan hidup, sehingga kita senantiasa ditopang ketika kita tersandung dan jatuh. Dengan demikian kita bisa mempertahankan kesucian yang telah Bapa anugerahkan dalam sakramen pertobatan.

Daya Kata Orang Suci

Telkom, Pangkalpinang

Bapak Bambang adalah seorang bapak dari 3 anak. Pekerjaan sehari-hari adalah sopir angkutan umum. Anak pertama sedang kuliah Bimbingan Penyuluhan di Universitas Sanatha Dharma Yogyakarta. Sedangkan 2 anaknya masih duduk di SMU. Ia berdomisili di paroki pengantara segala rahmat sungailiat.

Dalam perayaan Ekaristi syukur atas kehamilan 7 bulan saudari Gisela 19 Desember 2008 di kelompok Santo Antonius, beliau hadir. Ayah Gisela masih saudara dengan bapak Bambang. Ia mensharingkan pengalaman imannya. “kata-kata orang suci itu mempunyai daya.”

Kitab suci berisi tentang sabda. Yang bersabda adalah Yesus. Yesus adalah orang suci. Kata-kata Yesus mempunyai daya hidup. Maka dari itu kita hendaknya rajin membaca kata-kata kitab suci agar hidup kita selamat di dunia dan bahagia lahir dan batin.