9 Agustus 2008, Salatiga
Ketika Ayau terlahir di dunia 30 Juli 1969 dengan berat 4 kg di Rumah Sakit Susteran Wedi Klaten tahun 1969 sudah ada benjolan sebesar isi salak di kepala depan di atas mata kanan. Sedangkan kakaknya Christin sejak kecil terlahir sudah sakit kulit di sekujur tubuh. Inri kakak Christin sakit kulit (exim) mulai umur 6 tahun. Susi kakak Christen sakit kulit sejak umur 8 tahun. Apakah penyakit sejak lahir tersebut merupakan anugerah Tuhan?
Umur 4 tahun (tahun 1973) Ayau sakit kulit di sekujur tubuh. Sakit itu berawal dari bintik kecil. Bintik yang matang (merah) pecah. Pecahan bintik mengeluarkan cairan kuning. Cairan tersebut berbau amis. Bila cairan tersebut mengenai bagian kulit yang sehat, maka timbullah binting di tempat itu. Begitulah pembiakan 1 bintik menjadi bintik-bintik. Kumpulan bintik-bintik menyatu dan membesar seperti pulau. Setelah semua matang maka dia mengelupas. Jadi daging Ayau seperti tidak berkulit, dan mengeluarkan cairan kuning.
“Ketika saya membawa berobat Ayau di rumah sakit Sarjito, banyak dokter berkumpul di ruangan untuk melihat Ayau. Seorang dokter tua menunjukkan bagian-bagian sakit kulit di sekujur tubuh Ayau. Dia menjelaskan kepada banyak dokter muda. Dokter itu melarang Ayau untuk mekan ikan, memberi obat dan salep. Semua usaha dokter tidak membuahkan hasil.” Begitulah penuturan ayah kandung Ayau.
Ayah Ayau mencoba berbagai pengobatan alternatif. Karto yang adalah “orang pinter” di Samirono menyarankan agar memberi getah pohon kaktus. Getah justru menambah gatel kulit Ayau. Beberapa obat dari tabib hanya menipu mata, 2 jam kulit itu tampak membaik tetapi dia membiak semakin cepat. Air putih Kyai di kabupaten bajarejo Bloro tidak membuat Ayau sembuh. Masing-masing dukun, kyai, dokter mempunyai larangan-larangan untuk Ayau seperti 1) jangan makan semua ikan. 2) jangan makan semua daging. 3) jangan makan makanan dari orang mati. 3) Jangan makan barang yang masih panas. Semua larangan tidak membuat Ayau sembuh tetapi menambah beban Ayau.
Ibu Dari menyarankan Ibu Yani, agar berobat ke dokter Hardiyanto Jalan Gejayan Yogyakarta. Banyak masukan baik diusahakan dicoba demi kesembuhan Ayau. Tahun 1982 ibu Ayau segera membawanya kesana. Dokter Hadiyanto memberi salep berwarna kuning dan pil untuk tiga hari. Dia menyarankan agar Ayau tidak memakan ikan seperti udang, kepiting, terasi, ikan bandeng, dan lain-lain. Salep dan obat Hardiyanto tok cer. Ayau sembuh total di hari ketujuh. Penyakit itu sudah pergi jauh.
Tahun 1991 Ayau merantau ke kota Bogor untuk belajar selama 2 tahun. Curah hujan di Bogor lebih tinggi daripada di Yogyakarta. Banyak pepohonan besar di kebun raya Bogor. Hawa di bogor lebih lembab daripada di Yogyakarta. Air jernih berlimpah dengan PH 7. Tanah-tanah diairi air Gunung Gedhe dan gunung Salak sehingga tanah sangat subur. Banyak tanaman, bunga, dan sayur tumbuh subur. Orang-orang Sunda yang mengklaim penduduk asli kelebihan dedaunan hijau. Selama dua tahun tinggal di asrama dengan kondisi lingkungan seperti itu, Ayau sehat walafiat. Kulit Ayau semakin mulut dan ganteng.
Lulus sekolah di Bogor Ayau melanjutkan kuliah di Pematangsiantar Sumatera Utara pada tahun 1993. Banyak pepohonan besar di sekeliling tempat tinggal Ayau. Di bagian luar Pematangsiantar banyak pohon sawit dan pohon karet. Curah hujan di pematangsiantar lebih rendah daripada curah hujan di Bogor. Air bor di tempat tinggal sangat jernih, sementara banyak penduduk menggunakan air hujan untuk minum. Menjelang dini hari dingin, sedangkan siang hari sangat panas. Mayoritas penduduk Batak. Orang Batak banyak memeluk Kristen (HKBP) dan Katolik. Dia tidak memakan semua ikan dan daging. Dalam kondisi semacam itu tubuh Ayau sangat sehat selama kuliah 7 tahun.
Setelah dia menamatkan kuliahnya, dia bekerja di lingkungan gereja di Pangkalpinang Bangka pada tahun Agustus 2001. kata ibu Suhung pemilik perusahaan BOLESA di pangkalpinang, PH air di Pangkalpinang 5,5. Jika kemarau panjang (2bulan tidak turun hujan), maka banyak sumur kering. Tidak semua orang menggali dan atau mengebor pasti mendapatkan air. Banyak para penambang timah meluluh lantakkan hutan-hutan. Hutan-hutan berubah menjadi kubangan seperti danau-danau kecil. Sebagaian tanah menjadi rusak tercemar oleh solar dan limbah timah. Sayur-sayuran sulit tumbuh subur di tanah. Daratan Banga dikelilingi oleh laut lepas. Banyak makanan penduduk Tionghoa terbuat dari ikan. Disudutkan oleh situasi seperti itu maka Ayau nekat memakan makanan laut seperti udang, kepiting, kerang, cumi-cumi dan lain-lain. Makanan laut justru membuat Ayau sangat sehat.
Ayau buan Mei 2003 menetap di Rawa Seneng Jawa tengah. Banyak pohon kopi dan cokelat di lereng-lereng pegunungan. Sayur-sayur bisa hidup dengan sempurna. Hewan-hewan di darat dan burung-burung di langit berkembang dengan cepat. Air mengalir jernih dari pegunungan atau sumber-sumber air bawah tanah. Udara sangat dingin menjelang senja hari hingga pagi hari. Sinar mentari seringkali malu-malu muncul menyinari bumi. Sapi-sapi perah diolah menjadi keju atau diminum begitu saja oleh penduduk desa. Mereka yang mengaku orang Jawa mengelola dan menikmati kekayaan alam. Hari ketigabelas menginap, kulit Ayau tumbuh binting-bintik di sekujur tubuh. Bintik-bintik tersebut gatal dan mengeluarkan cairan. Sejarah hidup Ayau di tahun 1973 terulang kembali. Sakit kulit kambuh.
Ayau meninggalkan Rawa Seneng. Dia bergegas konsultasi dengan dokter kulit Hardiyanto di Jalan Gejayan Yogyakarta. Riwayat sakit kulit Ayau masih tersimpan dengan sangat baik di arsipnya. Ketika dia bertemu dengan dokter Hardiyanto, dia menginformasikan bahwa dia sudah memakan semua jenis ikan di pangkalpinang, tetapi justru membuat sehat. Ikan tidak bisa menjadi pemicu sakit kulit. Justru ketika berada di Rawaseneng sakit kulit tumbuh lagi.
Menurut dokter Hardiyanto, setiap orang hendaknya mengenal tubuh kita. Kalau tubuh tidak mau menerima ikan, maka jangan dimakan. Kalau ikan justru membuat sehat, maka silahkan menikmatinya. Penyakit ini timbul bukan karena factor makanan. Mungkin hal itu disebabkan oleh kelembaban udara di Rawa Seneng. Kelembaban bisa diatasi dengan memborehi seluruh tubuh dengan minyan zaitun. Bintik-bintik berair diolesi dengan salep dan minum obat.
Pulang dari rumah dokter Hardiyanto di Yogyakarta ke Rawa Seneng dia membawa salep, obat minum dan satu keyakinan baru bahwa “Penyebab sakit kulit adalah kelembaban udara.” Salep dan obat tok cer menyembuhkan sakit kulit Ayau. Setelah dia sembuh, selama tinggal di rawa seneng sekujur tubuh diborehi dengan minyak zaitun.
3 Juli 2003 Ayau pulang ke Pangkalpinang Bangka. Dia bebas memakan apapun. Makanan laut justru membuat tubuhnya berkembang pesat. Berat badan semula 53 kg menjadi 63 kg. Dia bisa hidup bahagia.
Sekali waktu kebahagiaan Ayau terenggut, manakala dia berada di Jawa selama cuti atau retret. Setiap Ayau memasuki pulau Jawa dalam 7 hari sekujur tubuh sudah mulai muncul bintik-bintik. Bintik-bintik tersebut pecah mengeluarkan air dan dia mengembang. Keyakinan Ayau menjadi kenyataan, “penyebab sakit kulit adalah kelembaban udara.” Sakit itu hanya bisa sembuh dengan salep milik dokter Hardiyanto. Maka setiap kali Ayau memasuki Jawa Tengah, dia hampir selalu membawa salep dari dokter Hardiyanto.
Juli 2007, Oktober 2007, Maret 2008 penyakit Ayau kambuh, ketika dia berada di Jawa untuk training dan cuti. Ia sengaja tidak mengolesi sakit kulitnya dengan salep Hardiyanto. Selama berada di Jawa penyakit tersebut berkembang cepat. Begitu Ayau memasuki pulau Bangka (kepulauan), kulitnya kembali mulus dalam tempo 7 hari. Jadi tanpa salep kulit itu kembali menjadi normal.
5 Agustus 2008 Ayau berada di Jakarta 2 hari. Hari kedua binting-bintik bermunculan. Beberapa diantaranya pecah dan mengeluarkan air. 8 Agustus 2008 Ayau tinggal di Jalan Cemara Salatiga Jawa tengah. Rumah banyak dikelilingi oleh pepohonan. Air jernih. Hawa dingin seperti rawa seneng jawa tengah. Tanah subur. Berada dalam kondisi seperti ini bintik-bintik di tubuh Ayau bermunculan di seluruh penjuru tubuh. Pada malam hari dia mengeluh bahwa bintik-bintik tersebut sangat gatal. Penyakit Ayau kambuh.
9 Agustus 2008 dia mengikuti misa di kapela Jalan Cemara Salatiga Jawa tengah. Kotbah pastor Margono MSF mampu mengubah hati,”Semua orang datang ke Beijing untuk berlomba. Mereka membawa keyakinan untuk memenangkan pertandingan. Tanpa memiliki keyakinan maka dia tidak mungkin bisa memenangkan pertandingan. Keyakinan memungkinkan sumber daya (potensi) di dalam diri memancar keluar. Apalagi keyakinan ini bersumber dari Allah. Keyakinan tersebut bisa berguna untuk menyembuhkan orang yang sakit seperti mengusir orang yang kerasukan roh jahat.”
Keyakinan kelembaban udara menyebabkan sakit kulit adalah keyakinan merusak kulit Ayau. Keyakinan ikan menyebabkan sakit kulit adalah keyakinan merusak tubuh Ayau. Berarti penyebab pemicu sakit kulit Ayau adalah keyakinan Merusak! Sekarang dua keyakinan merusak tersebut rontok dengan kotbah romo Margono. Ayau menggenggam keyakinan bahwa manusia mempunyai potensi untuk menyembuhkan dan mampu menyesuaikan diri dimanapun. Bekal keyakinan baru tersebut Ayau menjadi sehat. Sekalipun dia berada di tempat lembab, panas, dan makan semua jenis ikan berpuluh-puluh tahun. (Pastor Titus Budiyanto, Wisma Betlehem Jl Cemara 41 a Salatiga Jawatengah)
Aku yakin orang tua Ayau bangga mempunyai anak seperti Ayau, lahir dengan ada kelainan di dahi dan penyakit kulit yg dideritanya tidak membuatnya putus asa, sekolahpun dia tamatkan tepat waktu….diusia nya yg masih muda dia mau merenung, sebenarnya apa rencana Tuhan terhadap dirinya dan tidak menyalahkan Tuhan mengapa dia dilahirkan demikian dan dgn sabar dia lalui apa yg terjadi pada dirinya….Tuhan memang Mahabaik, Dia tahu bahwa Ayau punya Keyakian kuat dan tidak pernah ragu sedikitpun, maka diberikanlah Ayau sembuh total.
Mari kita contoh jalan pemikiran Ayau dan ketekunannya dalam doa hingga membuat Keyakinan dia semakin tinggi bahwa Tuhan selalu dgn sempurna menciptakan semua di bumi ini…….jarang anak seusia Ayau mempunyai pola pikir seperti itu.
Moga2 Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat Ayau.
Selamat berkarya Ayau, karya tulismu pasti sebagus pola pikir kamu…..GBU
Aku yakin orang tua Ayau bangga mempunyai anak seperti Ayau, lahir dengan ada kelainan di dahi dan penyakit kulit yg dideritanya tidak membuatnya putus asa, sekolahpun dia tamatkan tepat waktu….diusia nya yg masih muda dia mau merenung, sebenarnya apa rencana Tuhan terhadap dirinya dan tidak menyalahkan Tuhan mengapa dia dilahirkan demikian dan dgn sabar dia lalui apa yg terjadi pada dirinya….Tuhan memang Mahabaik, Dia tahu bahwa Ayau punya Keyakian kuat dan tidak pernah ragu sedikitpun, maka diberikanlah Ayau sembuh total.
Mari kita contoh jalan pemikiran Ayau dan ketekunannya dalam doa hingga membuat Keyakinan dia semakin tinggi bahwa Tuhan selalu dgn sempurna menciptakan semua di bumi ini…….jarang anak seusia Ayau mempunyai pola pikir seperti itu.
Moga2 Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat Ayau.
Selamat berkarya Ayau, karya tulismu pasti sebagus pola pikir kamu…..GBU
terimakasih untuk penegasan bebepa pokok pikiranmu dalam kisah nyata ini sara.
terimakasih untuk penegasan bebepa pokok pikiranmu dalam kisah nyata ini sara.