Wisma Keuskupan, 8 September 2008
Bapak Giman mempunyai bayi lelaki berumur 8 bulan. Dia tinggal di Kuningan Yogyakarta. 34 tahun yang lalu bayi tersebut dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Kurungan yang terbuat dari bambu tersebut sudah berisi enaka barang. Sejauh yang saya ingat di dalamnya ada emas, ada perak, ada kursi-kursian, ada uang, ada rumah-rumahan, ada mobil-mobilan, ada bunga, ada binatang-binatangan, dan lain-lain. Beberapa menit bayi itu di dalam dia memungut 1 benda dengan tangan kiri dan 1 benda di tangan kanan. Di tangan kiri dia memegang uang, sedangkan di tangan kanan dia memegang kursi. Bapak Giman berujar kepada anaknya, “Bagus sekali anakku. Besok kamu menjadi kaya (uang) dan mempunyai kedudukan (kursi-kursian).”
Cindi sekarang duduk di kelas III SMU St Yosef. Dia datang bersama dengan ibu Meilin ke wisma keuskupan Jalan Batu Kadera XXI N0 545 Pangkalpinang pukul 17.00 wib, 7 September 2008. Di ruang tamu mereka mengutarakan maksud kehadirannya kepada saya. “Saya bingung untuk memilih jurusan. Bisakah pastor doakan saya?”
Saya diam sejenak. Suasana menjadi hening. Saya menunggu mereka memasuki tahap menunggu jawaban. Pada saat mereka menunggu jawaban, saya memejamkan mata. Mereka semakin memasuki keheningan lebih dalam lagi. Di raut wajah mereka berdua timbul perasaan heran. “Hidup ibarat seperti besi dengan besi berani. Kau besi berani sedangkan jurusan yang engkau pilih adalah besi. Silahkan tinggalkan keuskupan segera! Berkelilinglah ke kota! Besi itu pasti menempel padamu! Keduanya saling tarik menarik dan menempel!”
Mereka segera beranjak meninggalkan keuskupan. Saya kemabali masuk ke pertapaan saya di kamar. Di kamar saya duduk terpekur di dalam doa. Mohon kepada Tuhan untuk membimbing Cindi. “Semoga Roh Tuhan membimbingnya.”
Setengah jam berlalu Cindi dan ibu Meilin kembali datang ke wisma keuskupan. Dia melukiskan di secarik kertas pengalamannya berkeliling kota. “Saat di jalan tadi, begitu banyak orang, dan saya merasa senang karena dapat bertemu dengan orang-orang yang sebelumnya belum saya temui. Tapi yang terpenting keinginan saya menuju ke klinik ataupun rumah sakit. Saya sayngat mengharapkan kalau saya bisa berada di tempat itu untuk membantu saudara-saudara / sesame yang membutuhkan pertolongan. Di rumah sakitlah saya bertemu dengan orang-orang yang tidak saya kenal dan menghargai hidup. Walaupun keadaan lemah, kritis, koma, dsb mereka masih tetap berusaha untuk memperpanjang hidupnya.”
“Sekarang pulanglah! Anda sudah mendapat jawabannya!” Dia pulang dengan langkah mantap. Dia menggenggam keyakinan bahwa dia mampu dan cocok memilih jurusan kedokteran umum. He he .. terimakasih bapak Giman. Engkau mengajar saya ketika aku masih kelas IV SD waktu itu. Anakmu adalah magnet, sedangkan uang itu besi. Prediksimu tentang anakmu menjadi kenyataan. Kini Cindi membuat sejarah serupa dengan versi sedikit berbeda. Anakku, cindi semoga engkau menjadi dokter hebat.
Salam kenal Romo,
Saya ingin menghubungi Romo via email. Kalo boleh saya mau minta alamat email Romo. Kalo sempet kunjungi web kami di http://www.obormedia.com . Atau http://obor.blogsome.com .
Terima kasih. Tuhan memberkati.
Salam kenal Romo,
Saya ingin menghubungi Romo via email. Kalo boleh saya mau minta alamat email Romo. Kalo sempet kunjungi web kami di http://www.obormedia.com . Atau http://obor.blogsome.com .
Terima kasih. Tuhan memberkati.
Adalah kehormatan saya, anda selaku editor penerbit Obor sudi mau berkontak dengan pastor Titus yang berkarya di daerah terpencil. Silahkan saja mas budy melalui Email di surodrono_bin@yahoo.co.id
Adalah kehormatan saya, anda selaku editor penerbit Obor sudi mau berkontak dengan pastor Titus yang berkarya di daerah terpencil. Silahkan saja mas budy melalui Email di surodrono_bin@yahoo.co.id
Terima kasih Romo atas tanggapannya.
Terima kasih Romo atas tanggapannya.
Dari sifat magnet bisa menentukan jurusan yg kita pilih…kalau kita cermati logikanya memang ada ditambah dengan cita2 yg luhur maka jurusan yg dipilih adalah tepat.
Tapi bukankah jalan untuk mencapai cita2 masih panjang dan diperlukan juga kemantapan hati dan hambatan apapun bentuknya pasti akan datang…..setegar apakah hati kita?
DOA adalah yg terbaik utk mengiringi jalan kita dalam mencapai cita2…Tuhan ada disamping kita.
Kalau disuruh memilih…..aku pilih menjadi magnet(bilangi donk Pst jurusan yg mana utk menjadi magnet!)….besi bisa ditempa menjadi tajam……..tapi ketajaman tak mungkin bertahan lama, harus ditempa dan ditempa terus….itulah perjalanan hidup manusia ya
Dan yg penting kita ingat setelah cita2 tercapai……..menyombongkan kehormatan dan kekayaan sama artinya dengan mengundang bencana.
Berbuat tanpa pamrih seperti halnya DIA….menciptakan alam semesta tanpa berbangga diri.
Semoga menjadi teladan bagi kita dalam menjalani hidup.
Dari sifat magnet bisa menentukan jurusan yg kita pilih…kalau kita cermati logikanya memang ada ditambah dengan cita2 yg luhur maka jurusan yg dipilih adalah tepat.
Tapi bukankah jalan untuk mencapai cita2 masih panjang dan diperlukan juga kemantapan hati dan hambatan apapun bentuknya pasti akan datang…..setegar apakah hati kita?
DOA adalah yg terbaik utk mengiringi jalan kita dalam mencapai cita2…Tuhan ada disamping kita.
Kalau disuruh memilih…..aku pilih menjadi magnet(bilangi donk Pst jurusan yg mana utk menjadi magnet!)….besi bisa ditempa menjadi tajam……..tapi ketajaman tak mungkin bertahan lama, harus ditempa dan ditempa terus….itulah perjalanan hidup manusia ya
Dan yg penting kita ingat setelah cita2 tercapai……..menyombongkan kehormatan dan kekayaan sama artinya dengan mengundang bencana.
Berbuat tanpa pamrih seperti halnya DIA….menciptakan alam semesta tanpa berbangga diri.
Semoga menjadi teladan bagi kita dalam menjalani hidup.