Negeri Harapan

Purisadhana, 8 agustus 2010

Ketika abram meninggalkan kampung halamannya menuju ke tanah terjanji, gambaran tentang tujuan akhir tidak pasti seperti kepastian matematis. Abram memegang kepastian iman, bahwa di tanah terjanji mereka akan hidup lebih baik, lebih melimpah, lebih makmur daripada dia hidup di tempat asal. Dalam kehidupan kita sering dihadapkan pada kenyataan akan masa depan kita yg belum PASTI berdasarkan perhitungan logis/penalaran manusia. Namun kita yakin bahwa berdasarkan iman kita bahwa berkat campurtangan Allah masa depan kita menjadi pasti dalam perspektif iman. Bagaimanakah situasi kita sekarang: ekonomi, perasaan, emosi, kerohanian, fisik, keluarga, dsb dan apakah harapan kita di kemudian hari? Apakah kita memiliki kerinduan untuk keluar dari semua itu menuju ke keadaan lebih baik, manusiawi, membahagiakan, dst? Atau kita justru belum menyadari posisi kita sekarang dan tak memiliki impian berada di tempat yg membahagiakan? Selamat berlibur bersama dengan keluarga atau rekan di hari minggu. Tuhan memberkati perjalanan anda menuju ke tanah terjanji anda masing-masing.

Tinggalkan Balasan